Pers Diminta Netral dan Sajikan Berita Pemilu Berkualitas

71
Mantan Ketua Dewan Pers 2010-2016, Prof.Dr Bagir Manan, SH MCl, saat memberikan materi pada Editor's Forum 2018 di Denpasar Rabu (29/08/2018), Foto: Boly Edalolon

Denpasar, Klikpena.com
Ratusan Jurnalis di Denpasar, Bali diminta menjaga netralitas dan menyajikan berita berkualitas pada Pemilu 2019 mendatang. Hal ini disampaikan Prof. Dr. Bagir Manan, SH.MCl dalam Editor;s Forum di Kawasan Wisata Sanur, Rabu (29/08/2018) siang.

Dalam diskusi media dan pemaparan materi yang mengambil tema “Media Bermartabat Untuk Pemilu Berkualitas” ini, menghadirkan empat nara Sumber yakni masing-masing; Prof Dr Bagir Manan SH MCl, Agus Sudibyo, Bambang Harimurti dan Ahmed Kurnia.

Bagir Manan mengatakan, Pers bermartabat harus memiliki empat point yakni; Tetap loyal, setia dan taat menjalankan prinsip Jurnalisme Demokratis, Pers tetap menjaga indpendensinya, Pers tetap menjaga dirinya sebagai institusi Publik dan Pers harus menjamin Pemilu berjalan bebas. Bagir Manan juga mengaku ditengah perkembangan media sosial saat ini, konsekuensi logis media harus berkompetisi.

“Kita tidak mungkin membunuh media sosial karena konsekuensi dari kebebeasan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat konten media sosial tidak terbatas mulai dari orang yang ekstrim hingga orang frustrasi. Hal ini diakibatkan melemahnya profesionalisme media mainstream sehingga publik tidak puas mendapat di media jurnalis dan mencarinya di media sosial” papar Bagir Manan.

Mantan Ketua Dewan Pers 2010-2016, Prof.Dr Bagir Manan, SH MCl, saat memberikan materi pada Editor’s Forum 2018 di Denpasar Rabu (29/08/2018), Foto: Boly Edalolon

Mantan Ketua Dewan Pers 2010-2016 itu melanjutkan, “Salah satu furngsi pers menyampaikan informasi yang benar. Informasi saja tidak cukup karena itu pers harus berfungsi sebagai pencerah masyarakat sehingga masyarakat secara sadar gunakan hak pilihnya bukan karena mobilisasi pihak tertentu” ujarnya Bagir Manan.

Selain memberitakan sesuai fakta dan netral, Pers juga memiliki kewajiban untuk memulihkan berbagai hal seperti keretakan dan ketidakharmonisan yang terjadi saat pemilu. Karena itu pers harus menyadari porsinya sebagai institusi public.

“Orang jadi wartawan bukan karena ada kerjaan enak tapi karena panggilan idealisme. Masih sanggupkah kita menjaga mewarisi prinsip dari pers? masih sanggupkah kita menjaga identitas kita yang khas sebagai sosial institusi yang hanya bekerja untuk kepentingan public? Masih sanggupkah kita menjaga kepercayaan public? Hal ini yang harus kita renungkan sebagai insan pers” pungkasnya.

Jurnalis Bali hadiri Editor’s Forum 2018 di Denpasar Rabu (29/08/2018), Foto: Boly Edalolon

Pada sesi yang sama, Anggota Dewan Pers periode 2010-2013, Agus Sudibyo mengatakan, Media harus menjadi rujukan masyarakat untuk mendapat informasi pemilu. “Tingkat kepercayaan media massa dan media sosial saat ini sama, karena keduanya masih sama diakses masyarakat. Kepercayaan masyarakat kepada media massa dan media sosial berdasarkan hasil survey sebesar 71 persen” papar Agus yang juga saat ini sebagai Kaukus Media Pemilu PWI.

Lanjut Agus “Karena itu informasi harus lebih terpercaya yang tidak didapatkan publik di media sosial. Persaingan media massa jurnalistik dan media sosial sudah multipolar, karena itu salah satu cara bertahan untuk dibutuhkan masyakarat yakni memberikan jurnalisme yang bermartabat” ujarnya.

Sementara itu, Bambang Harimurti, Mantan Ketua Dewan Pers 2010-2013 memaparkan materi pendekatan etika media dalam pemilu. “Generasi milenial saat ini cendrung tidak menjaga etika ruang publik yang bisa berdampak bagi orang lain. Karena itu media pers harus memiliki porsi dan peran yang berbeda dengan media sosial yang cendrung menganggap dirinya juga wartawan” Ujar Bambang.

Moderator Diskusi Emanuel dewata Oja, Sekretaris PWI Bali saat meringkas Intisari pemaparan para Narasumber. Foto: Boly Edalolon

Nara Sumber Lain, Tenaga Ahlio Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik, Ahmed Kurnia meminta para jurnalis agar berperan aktif mejaga informasi hoax yang beredar di masyarakat dengan mempublikasikan berita sesuai fakta. Saat ini telah ada media mainstream di Indonesia sepeti Tempo, Liputan6, Kompas dan Tirto.id tengah membuat media verifikasi Hoax, sehingga diharapkan media mainstream perlu mengikutinya.

“ Sikap Pemerintah Dalam menyikapi Pemberitaan Media selama ini tentunya terus memantau pemberitaan yang berkembang. Namun masih saja beredar informasi hoax sehingga semua pihak bisa melaporkan segala bentuk informasi yang dinilai dapat mengancam keutuhan Negara melalui email aduankonten@kominfo.go.id, untuk ditindaklanjuti. Pungkasnya. (EL)

Komen via Facebook