Kasus Narkotika, Mantan Sipir Lapas Kerobokan Dipenjara 8 Tahun

48
Mantan sipir yang pernah mendapat penghargaan dari BNN Bali, Fidel Ramos Sipayung, divonis 8 tahun penjara. Dirinya terbukti bersalah melakukan percobaan atau permufakatan jahat dalam jual beli narkotika dan harus mendekam di balik jeruji besi, tempatnya bekerja dulu (Klikpena.com/Dickmina)

Denpasar, Klikpena.com – Ketika masih menjadi petugas sipir di Lapas Kerobokan, Denpasar, Bali,  Fidel Ramos Sipayung, pernah mendapatkan penghargaan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Propinsi Bali. Lelaki berusia 27 tahun ini berhasil menggagalkan penyelundupan narkotika ke dalam  lapas terbesar di Bali ini. Tragisnya, narkotika juga yang akhirnya membuat dirinya dicopot sebagai Polisi Khusus di Lapas Kerobokan  dan menggiringnya ke balik jeruji besi Lapas, di tempatnya bekerja dulu.

Dalam sidang yang digelar, Rabu (29/8) di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, majelis hakim yang diketuai, Angeliky Handajani Day mengganjarnya dengan hukuman 8 tahun penjara. Mantan sipir ini terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan perbuatan melawan hukum, percobaan atau permufakatan jahat dalam peredaran narkotika.

Tidak hanya itu, majelis hakim juga membebankan terdakwa dengan pidana denda  sebesar Rp1,5 miliar, subsider empat bulan kurungan penjara. “Terdakwa Fidel Ramos Sipayung terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana narkotika. Menjatuhkan pidana penjara selama 8 tahun dan pidana denda Rp1,5 miliar. Dengan ketentuan bila tidak mampu membayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 4 bulan,” tegas hakim Angeliky Day.

Boleh dikata, majelis hakim cukup berbaik hati kepada terdakwa. Pasalnya, vonis majelis hakim itu lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eddy Arta Wijaya. Dalam sidang sebelumnya, jaksa Eddy Arta menuntut terdakwa dengan pidana penjara  13 tahun dan denda Rp1,5 miliar, subsider enam bulan kurungan.

Dalam pertimbangan yang meringankan menurut majelis hakim, terdakwa mengakui perbuatannya, belum pernah dihukum dan terdakwa yang merupakan mantan sipir yang pernah mendapat penghargaan dari BNN Provinsi Bali terkait pencegahan masuknya narkoba ke LP Kerobokan.

Penangkapan terdakwa, bermula petugas BNN Provinsi Bali mendapat informasi dari masyarakat bahwa disekitar area parkir Lapas Kelas IIA Kerobokan sering  terjadi atau berlanghsung transaksi narkotika.

Pada 12 Februari 2018 petugas BNN Bali melakukan penyelidikan dan pengamatan disekitar parkir Lapas. Sekitar  pukul 10.15 Wita petugas BNN melihat terdakwa,  yang saat itu  sedang berjaga keluar dari dalam Lapas Kerobokan menuju jalan raya dengan membawa gelas putih yang disimpan di dalam sebuah kantong plastik transparan. Melihat gelagat terdakwa yang mencurigakan, petugas mendekatinya dan menanyakan barang barang yang dibawanya. Saat ditanya, terdakwa menjawab tidak jelas. Sehingga dilakukan penggeledahan.

Begitu gelas yang ada di kantong plastik dibuka, ditemukan dua bungkus plastik klip berisi sabu masing-masing dengan berat 29,79 gram dan 4,98 gram yang dimasukan di dalam bungkus rokok. Selain itu ada sabu yang disimpan di pembungkus cerutu, seberat 9,93 gram.  Saat diinterogasi, terdakwa mengaku barang haram itu milik narapidana di LP Kerobokan bernama Imam Muzaki yang diterima melalui Erik untuk diberikan kepada seseorang yang menunggu di luar LP Kerobokan.

Dari penangkapan terdakwa ini, petugas BNN Bali kemudian melakukan pengembangan  dan berhasil  menangkap, I Komang Merta Yasa dan I Gusti Agung Bagus (dua terdakwa dalam berkas terpisah) yang mengambil barang itu di dekat galeri lukisan di sekitar Lapas Kerobokan, setelah ditelepon terdakwa. Saat diamankan, dari kedua orang ini  petugas BNN  menemukan ekstasi  yang rencananya ditukar dengan sabu yang dibawa oleh terdakwa.   DM

Komen via Facebook