Sidang Lanjutan Penculikan WN Bulgaria, JPU dan Pengacara Saling Adu Argumen

77
Saksi Korban, George Jordanov saat dikonfrontir dengan para terdakwa dalam sidang pemeriksaan saksi korban di PN Denpasar, Kamis (27/09/2018) siang. Foto: Sim

Denpasar, Klikpena.com
Sidang lanjutan kasus penculikan warga negara Bulgaria, Kamis (27/9/2018) siang di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, diwarnai adu argumentasi antara Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan tim kuasa hukum 7 terdakwa. Saksi korban George tampak kewalahan menjawab pertanyaan pengacara terdakwa dari tim ESA Law Office, Erwin Siregar,SH cs.

Melalui penerjemah Wayan Ana, George mengatakan bahwa dirinya tiba-tiba diculik dan dianiaya dan disekap di sebuah kamar kos di Kuta. Namun dari ketujuh pelaku dia tidak tahu pasti siapa saja yang melakukan penyiksaan atas dirinya, karena wajahnya ditutup dengan baju.

”Saya baru tahu setelah kasus ini dilaporkan ke pihak kepolisian bersama kuasa hukumnya Suroso,SH, ternyata pelakunya gerombolan warga Negara Turki” paparnya.

Tim kuasa hukum terdakwa masing-masing; Erwin Siregar,SH, Wayan Lastiyasa dan I Putu Windu Semara Putra,SH, menggali keterangan korban penculikan George Jordanov, dalam siding pemeriksaan saksi korban. Tim jaksa penuntut umum (JPU) Edy Artha Wijaya,Cs pun membeberkan barang bukti baju dengan bercak darah serta palu dan foto-foto bekas luka yang dialami saksi korban, karena mengganggap pertanyaan kuasa hukum meringankan 7 kliennya.

Dalam sidang yang dipimpin hakim ketua IG Partha Bargawa ini, 7 terdakwa masing-masing; Thomir Asenop Danaelov alias Toni asal Bulgaria; Kemal Kapuci asal Turki; Yusuf Efraim Kiuk asal Baubau; Deti asal Singkawang; dan Justen Jorans Kapitan alias Justin asal Kupang, banyak membantah peristiwa penculikan terhadap wisatawan asal Bulgaria yang sedang berlibur di Bali sejak Nopomber 2017 hingga Februari 2018.

Korban Penculikan Warga Negara Bulgaria, George Jordanov usai sidang di PN Denpasar, Kamis (27/09/2018) siang. Foto: Sim

Saat ditanya JPU, Goerge menceritakan kejadian penculikan tersebut. “Saat itu saya berada di Mcdonal (di Jalan Dewi Sri, Kuta, Badung). Lalu, saya menyebrang jalan menuju ke mini market untuk membeli rokok. Ketika saya keluar dari mini market, salah satu dari mereka (terdakwa Ken) mendekati saya dan menyanakan apa yang kamu lakukan disini, dan langsung memukul saya,” tuturnya.

Lanjut korban, yang memukul dirinya lebih dari satu orang dan tidak sempat melawan. “Saya tidak tahu siapa yang pukul karena saya menuntup wajah saya dengan tangan. Saat itu saya juga sempat lari, tapi ada yang menarik tas saya sehingga saya terjatuh,” akunya.

Korban juga mengungkapkan kesadisan para terdakwa saat saksi korban di sekap dalam kamar kos di Jimbran. Korban mengaku diikat menggunakan kabel, tangan diborgol hingga dipukul dengan palu. Bahkan, terdakwa Justin memukul saksi korban hingga gigi korban rontok.

“Karahman memukul saya, sulit saya jelaskan karena banyak yang dia lakukan ke saya,” kata Goerge. Jaksa Eddy juga menunjukan palu yang digunakan para terdakwa untuk memukul saksi korban. “Palu itu digunakan untuk memukul lutut saya tapi saya tidak ingat beberapa kali, yang saya ingat pemilik rumah yang hentikan,” paparnya.

Selain itu, saksi korban juga mengaku jika yang melapor ke Konsulat Bulgaria bukan dirinya tapi temannya. Pelaporan itu karena salah satu terdakwa WNA asal Turkey menelpon teman saksi korban untuk minta uang tebusan sebsar 2000 euro. “Mereka mengambil handphone saya, lalu salah satu dari mereka menelpon menelpon teman saya meminta uang tebusan 2000 euro,” katanya.

Sedangkan penasehat hukum para terdakwa, Erwin Siregar cs, mencecar saksi korban namun banyak menjawab tidak ingat. Saat ditanya kenapa tidak sempat melawan atau berteriak minta tolong pada saat disekap di kamar. Saksi korban mengaku merasa tertekan dan diancam mengunakan senjata api. “Saat itu Ken menunjukan senjata,” kata Goerge. “Anda yakin Ken menunjukan senjata?” tanya erwin, “Iya,saya yakin” sambil menirukan gerakan Ken.

Hampir sebagian besar keterangan saksi korban, dibantah oleh para terdakwa. Bahkan salah satu terdakwa, Kharahman, meminta majelis hakim atau penuntut umum mengecek status saksi korban di Konsulat Bulgaria. “Tolong cari tahu keberadaan saksi ini di kedutaan besar karna dia ini pelaku kriminal. Dia sudah beberapa kali masuk penjara,” kata Kharahman. Hanya tudingan terdakwa Kharahman itu langsung dibantah hakim ketua, karena bukan bagian dari perkara ini. “Itu silakan dimasukan ke dalam pembelaan nanti,” kata Hakim Ketua, Partha Bargawa, menyela permintaan terdakwa.

Dalam Sidang sebelumnya, JPU dari Kejati Bali,Edy Artha Wijaya mendakwa para pelaku dengan dakwaan alternatif. Dakwaan pertama, para terdakwa diduga melakukan tindak pidana penculikan yang diatur dan diancam dalam Pasal 328 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal delapan tahun. (SIM)

Komen via Facebook