Bali Layak Jadi Destinasi Pengembangan Film Animasi dan Video

107

Denpasar, Klikpena.com-Bali sangat berpotensi untuk pengembangan ekonomi kreatif . Sub sektor ekonomi kreatif yang pertumbuhannya juga bagus yakni film animasi dan video, desain komunikasi visual, serta aplikasi dan pengembangan game.  “Untuk film animasi dan video potensi dikembangkan di Bali sangat besar apalagi dengan keunikan dan keragaman budayanya,” kata Eko Budi Cahyono SE, MM penulis buku ekonomi bisnis “best seller” berjudul “Sukses Ada di Pikiran dan Infrastruktur Ekonomi”, Jumat (28/9).

Calon Legislatif  DPR RI nomor urut 2 Dapil Bali dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menjelaskan, ekonomi kreatif saat ini berkembang pesat di Indonesia. Pertumbuhannya setiap tahun terus meningkat secara signifikan.  “Melihat perkembangan tersebut, ekonomi kreatif akan menjadi kekuatan baru, mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan. Bahkan bagi Bali yang merupakan tujuan wisata dunia, pertumbuhan ekonomi kreatif ini memberi dampak yang sangat positif dan sangat menjanjikan,” kata pengusaha yang juga pendiri Ekonomi Bali Creatif.

Produk Ekonomi Kreatif berupa souvenir yang paling diminati wisatawan

Dikatakan Eko, pesatnya pertumbuhan ekonomi kreatif ini sangat didukung pula dengan tingginya kunjungan wisatawan ke Bali yang banyak memanfaatkan produk-produk ekonomi kreatif.  “Apalagi kreativitas orang Bali sangat tinggi,” tegasnya.

Pertumbuhan ekonomi kreatif juga semakin bagus mengingat Bali kerap menjadi tempat diselenggarakannya kegiatan internasional yang melibatkan peserta sangat besar. Di bulan Oktober ini saja, ada sidang tahunan IMF-World Bank yang pesertanya diperkirakan mencapai 15 ribu orang.

ko

Pada bulan berikutnya Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Kementerian Luar Negeri akan menggelar The World Conference on Creative Economy (Konferensi Ekonomi Kreatif Tingkat Dunia) di Bali pada 6-8 November 2018 yang akan dihadiri 1.000 lebih peserta dari 58 negara dan organisasi internasional.

“Konferensi ekonomi kreatif ini menjadi momentum yang baik untuk mempromosikan produk ekonomi kreatif Indonesia khususnya Bali sekaligus membangun jejaring yang lebih luas dan menarik investor,” kata Eko yang juga anggota REI (Real Estat Indonesia) dan pengurus Kadin Bali ini.

Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), tahun 2015 sektor ekonomi kreatif menyumbang Rp 852 triliun atau 7,38 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Tahun 2016 menjadi Rp 922,58 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 13,47 persen. Tahun 2017 menyumbang Rp 990 triliun dan menyerap tenaga kerja 17,4 persen. Untuk tahun 2018 ini diprediksi menyumbang PDB sebesar Rp 1.041 triliun dan menyerap tenaga kerja 18,2 persen.

Eko Budi Cahyono

Pria yang juga aktif sebagai konsultan ekonomi manajemen keuangan dan properti ini menambahkan cakupan ekonomi kreatif meliputi enam belas subsektor yakni arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, film, animasi, dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik fashion. Juga ada aplikasi dan game developer, penerbitan, periklanan, televisi dan radio, seni pertunjukan dan seni rupa. Menurut Eko, tiga subsektor utama yang menopang ekonomi kreatif di Indonesia yakni kuliner, fashion dan kriya abi

 

Komen via Facebook