Palsukan Dokumen Hotel di Phnom Penh, Frans Bambang Siswanto Tersangka

295
Palsukan Dokumen Hotel di Phnom Penh, Frans Bambang Siswanto Tersangka

(Denpasar, Klikpena.com) – Pengusaha asal Bali, Frans Bambang Siswanto (FBS), dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri oleh Arens Agassi Rentasalu, SH.

FBS dilaporkan sesuai Surat Laporan Polisi Nomor: LP/ 09/ I/ 2016/ Bareskrim, tertanggal 5 Januari 2016 mengenai pemalsuan Surat Perjanjian Pengalihan Hak atas Piutang (Cessie) dan Memasukkan Keterangan Palsu ke dalam Akta Otentik.

Hingga saat ini, FBS sudah dua kali dipanggil Bareskrim Mabes Polri untuk dimintai keterangan.

Dalam Surat Panggilan ke-2 Nomor : S.Pgl/ 360/ IV/ 2018/ Dittipidum, memanggil Dr Ir Frans Bambang Siswanto, MM, alamat Jalan Hayam Wuruk No 155/ Link Tanjung Bungkak, Kaja Kelurahan Sumerta Kelod, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar.

Surat panggilan tersebut memerintahkan FBS menemui Kasubdit II Kombes Pol Drs Djoko Poerwanto atau Kanit V AKBP Akhmad Selamet, SH dan Tim Subdit II Direktorat Tindak Pidana  Umum Bareskrim Polri Lt 1 Gedung Mina Bahari II, Komplek Kantor Kementerian  Kelautan dan Perikanan.

Pemanggilan tersebut untuk didengarkan keterangannya sebagai tersangka pada 19 April 2018, dalam perkara dugaan tindak pidana pemalsuan surat dan memasukkan keterangan palsu ke dalam akta autentik.

Sumber klikpena.com menyebutkan, Edward Darwin Kowara (EDK) merupakan Direktur dan orang kepercayaan FBS yang juga pemilik PT Pulomas.

EDK telah menjual asset bersama milik Edward Seky Soeryadjaya, sebuah rumah tinggal di Jalan Tosamut, Phnom Penh Cambodia. Juga sebuah bangunan gedung hotel apartemen, bernama Embassy Place Apartment, di Jalan 147 Norodom, Boulevard, Phnom Penh, Cambodia, dengan nilai jual di perkirakan sekitar USD$ 13.000.000,- (tiga belas juta Dollar Amerika).

Beberapa bukti email dan fax dari FBS tahun 2001 menginstruksikan kepada EDK untuk segera menjual atau memindahkan kepemilikan property tersebut ke PMA. Terbukti FBS yang memberikan instruksi kepada EDK menjual asset tersebut.

“EDK memberikan pengakuan kepada polisi, bahwa dia telah menjual Embassy Place Apartment pada tahun 2005 dan juga sudah menerima lunas uang pembayarannya,” kata sumber tersebut.

Pada pertengahan tahun 2015, FBS melalui PT Pulomas menagih US$ 7,6jt kepada Edward Soeryadjaya dengan dalih, Edward Soeryadjaya yang menjual kedua property tersebut dan uang bagian FBS tidak dibayarkan.

Hasil pemeriksaan penyidik Bareskrim Mabes Polri, akta utang yang dijual FBS kepada perusahaannya sendiri adalah akta yang isinya dipalsukan dan dipakai seolah-olah PT Pulomas pailit dan didaftarkan di PN Surabaya.

“Surat panggilan pertama FBS tidak datang. Surat panggilan kedua tanggal 19 April 2018, FBS juga tidak datang. Namun pada bulan Mei 2018 lalu, FBS memenuhi panggilan Mabes Polri dan dilakukan pemeriksaan di Surabaya,” beber sumber tersebut.

“Anehnya, seluruh data kepailitan tersebut lenyap setelah diketahui bahwa akta yang dipakai adalah akta yang direkayasa FBS untuk memeras dan menipu ESS,” imbuh sumber itu.

Frans Bambang Siswanto, saat dihubungi Kamis (26/7/2018) Pukul 11.17 WITA, tidak menjawab. Padahal, nada dering ponselnya berbunyi.

Sementara salah satu orang dekat FBS, menjanjikan untuk bertemu dan konfirmasi langsung soal kasus ini. Namun hingga berita ini ditayangkan, yang bersangkutan belum memberikan kepastian untuk memberikan klarifikasi. (mse)

Komen via Facebook