Festival Tepi Sawah Libatkan Seniman dan Aktifvis Lingkungan

59
Foto: Istimewa

Denpasar, Klikpena.com
Festival Tepi Sawah akan kembali digelar selama dua hari di Omah Apik, Desa Pejeng, Tampak siring Gianyar Bali, pada bulan September mendatang. Festival tahun kedua ini berorientasi pada tema lingkungan dengan melibatkan para seniman untuk berkolaborasi dan berkarya dalam kebersamaan.

“Untuk itu, kami mewujudkan festival ini dengan mengajak berbagai komunitas seni serta membangun beberapa relasi dan jaringan yang mendukung festival ini. Salah satu komunitas yang terlibat di dalam festival ini adalah Komunitas Rumah Berdaya. Komunitas ini aktif berfungsi untuk menghapus stigma terhadap Orang Dengan Skizofrenia,” ujar Anom Darsana, Seniman penggagas Festival Tepi Sawah.

Para penggagas Festival Tepi Sawah Saat Konpers di Denpasar, sabtu siang (25/08), Foto: Ist

Festival yang akan berlangsung tanggal 8-9 September 2018 mendatang, berlokasi di pinggiran desa ini, akan melibatkan banyak pihak, mulai dari seniman, aktivis, hingga komunitas untuk menghadirkan karya musik dan seni yang menakjubkan serta berkesan. Selain itu, Festival Tepi Sawah juga melibatkan Maestro dongeng dan permainan tradisional anak-anak Bali, yaitu Made Taro.

Tahun kedua festival ini, sejumlah workshop juga diproyeksi akan mengisi rangkaian acara festival diantaranya; Minikino Film Week Presentation, Vocal Coaching with Trie Utami, Little Talks Book Corner, Komunitas Drawing Tepi Barat, Genggong With Nyoman Suwida, Indonesian Percussion Team, Gamut (Gamelan Mulut) with Bli Ciaaattt, Sapek with Agus, dan sunset yoga.

Foto: Istimewa

Festival ini lahir dari perpaduan passion dan gagasan tiga seniman yakni; Nita Aartsen, Anom Darsana, Etha Widiyanto. Festival yang lahir dari intensi mereka untuk mengintergrasikan elemen kreatif dari festival ini, berbentuk edukasi dan implementasi tentang environmental sustainability, baik di kalangan anak-anak maupun di kalangan dewasa.

Festival Tepi Sawah akan berkolaborasi dengan Clean Bali Series, sebuah program buku dan pendidikan, tentang kesadaran lingkungan. Festival Tepi Sawah ini diharapkan membawa pesan moral akan kelestarian lingkungan hidup dengan prinsip reduce, reuse, dan recycle (kurangi, gunakan kembali, dan daur ulang) baik dalam hal produksi, penjualan makanan dan minuman, penanganan sampah, pembuangan limbah dan lain-lain. (EL)

Komen via Facebook