Momentum Pembenahan Tata Niaga Pasar Tiongkok

88

“Suarthana: Gembar gembor Quality Tourism, Jual Dijual Murah”

Denpasar, Klikpena.Com – Riuhnya pemberitaan seputar mafia Tiongkok yang menjual paket wisata murahan belakangan ini mestinya jadi momentum untuk membenah tata niaga pasar wisata Tiongkok yang selalu bermasalah sejak lama. Demikian harapan Sekretaris DPD Asita Bali Putu Winastra di Denpasar, Kamis (25/10).

“Kita sudah tahu, persoalan di pasar Tiongkok ini sangat kompleks. Dari dulu, mulai dari apa yang disebut jual beli kepala, sampai yang terjadi akhir-akhir ini paket wisata murah yang nilainya tidak masuk di akal. Hal itu tentu sangat merusakan citra Bali seolah menjadi destinasi murahan,” ujar Winastra.

Putu Winastra KBA Tour and Travel9

Menurut dia, pembenahan bisa dimulai dengan mempertemukan semua pihak yang terlibat dengan pasar wisata Tiongkok, baik itu travel agent, tour operator, pramuwisata, pemerintah, imigrasi, bahkan dengan wholesaler dari negeri Tiongkok sendiri. Pemprov Bali dan Kementerian Pariwisata serta Kedubes atau Konjen Tiongkok di Bali bisa menjadi fasilitator. Tujuannya menyamakan persepsi, guna mpertemukan kepentingan mereka. Sekaligus mencari akar persoalannya di mana.

“Prinsipnya berbisnis boleh saja, tetapi tetap harus ada standar dan etika. Kita tidak bisa hanya mengejar keuntungan dengan mengabaikan etika tersebut. Katakanlah soal tugas dan kewenangan masing-masing pihak yang meng-handle wisatawan, semuanya sudah jelas. Tidak bisa campur aduk, guide atau tour operator memerankan fungsi travel agent. Bisa kacau,” ujar owner KBA Tour ini.

Sementara Dr. Putra Suarthana, MM pemilik Puri Saron Grup mengritik kondisi yang terjadi untuk market Tiongkok yang akhir akhir ini ramai dibicarakan karena permainan para mafia. “Sejak dulu, pemerintah dan semua stakeholder pariwisata gembar-gembor soal quality tourism (pariwisata berkualitas). Tapi nyatanya,  sampai saat ini kita masih menjual paket murah yang jutsru merugikan citra destinasi,”kritiknya

Putra Suarthana Pemilik Puri Saron Grup

Pemilik sejumlah lembaga pendidikan pariwisata dan kesehatan ini melihat apa yang terjadi pada pasar Tiongkok ini justru bagian dari upaya menjual murah destinasi. “Memang di Bali semua ada segmen. Tapi khusus untuk pasar Tiongkok, duitnya kembali ke mereka lagi. Mereka punya hotel, toko souvenir, punya restaurant. Bahkan guide juga dari mereka. Lalu Bali dapat apa. Memang sudah saat pemerintah segera membuat regulasi untuk menata pasar ini. Jangan lagi terlalu banyak teori. Saatnya untuk membenahi,”tandas Suarthana

Sebelum merebaknya kasus toko yang menjual paket murah ini, ungkap Winastra, khusus di Asita Bali sendiri, pihaknya sudah membuat semacam kesepakatan untuk menekan terjadinya jual beli kepala. Kendati cakupan kesepakatan itu terbatas pada member Asita Bali, namun kasus jual beli kepala belakangan ini sudah tidak terdengar lagi, setidaknya secara terbuka.

FGD stakeholder pariwisata Bali bersama Kementerian Pariwisata membahas tata niaga pasar Tiongkok

Terkait paket murah wisata Tiongkok, Winastra setuju kalau toko-toko yang melakukan pelanggaran segera ditutup. Di sini dibutuhkan ketegasan pemerintah, misalnya dari aspek perizinan dan sekaligus diberi arahan untuk berbisnis secara benar. Dalami dulu apa persoalannya, mengapa sampai paket murah itu bisa lolos. “Dan, pertanyaan pentingnya mengapa mereka berani lakukan itu di Bali? Tugas pemerintahlah untuk menertibkannya,” usul pria asal Bangli ini.

Menurut Winastra, pembenahan pasar wisata Tiongkok sangat mendesak. Selain demi memulihkan citra Bali yang bisa dipersepsikan sebagai destinasi murahan, juga bagi citra wisatawan Tiongkok sendiri, yang selama ini dikesankan sebagaivery low budget tourist. “Padahal belum tentu seperti itu. Banyak turis Tiongkok yang berdaya beli tinggi. Tata kelolanya yang kacau. Itu yang harus dibenah,” tandas Winastra. abi/as

 

Komen via Facebook