Sanur Festival Gelar Dialog Budaya Maknai Erupsi Gunung Agung

70
Dialog budaya Boost Sanur Village Festival di Griya Santrian Resort, Sanur jumat (24/08/2018 petang

Denpasar, Klikpena.com
Boost Sanur Village Festival 2018 juga menggelar Dialog budaya, untuk memaknai peristiwa erupsi Gunung Agung di Griya Santrian Resort, Sanur jumat (24/08/2018 petang. Mengambil tema ‘Mandala Giri’, masyarakat Bali dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan menjaga lingkungan dan mewujudnyatakan penghargaan terhadap gunung sebagai salah satu sumber kehidupan.

Sejumlah nara sumber yang dihadirkan panitia masing-masing; Risa Permanadeli dari Pusat Kajian Representasi Sosial Indonesia; Budayawan asal Prancis Jean Couteau; Budayawan Bali, Wayan Westa dan Fotografer, Ida Bagus Putra Adnyana.

Baca Juga: Menpar Buka Boost Sanur Village Festival 2018

Masyarakat Bali diingatkan untuk kembali memusatkan perhatian untuk memaknai dan menyikapi erupsi Gunung Agung, karena erupsinya mengguncang berbagai segi kehidupan dan mengganggu aktivitas pariwisata.

Budayawan Bali, I Wayan Westa, saat tengah memberikan materi saat dialog budaya di Griya Santrian Resort, jumat petang (24/08), Foto: Ist

Budayawan Bali, I Wayan Westa membedah narasi sastrawi tentang muasal gunung dan berbagai filosofinya. “Sudah sewajarnya orang Bali memuliakan gunung, bukan hanya untuk memuja Siwa, tetapi juga memuja leluhur,” ungkap penekun sastra Bali ini.

Westa mengingatkan, puncak gunung dalam diri manusia berada di kepala, oleh karena itu para tetua selalu bernasihat agar berhati-hati membawa kepala, di situlah tempat Batara Siwa. Hal ini dipahami betapa penting arti kepala, karena tempat bersemayam pikiran, wibawa, dan nasib berkelindan.

Baca Juga: Boost Sanur Village Festival Luncurkan Transportasi Berbasis Aplikasi

Sementara pada sesi lain, Budayawan asal Prancis Jean Couteau mengatakan, dalam konteks tanda-tanda alam seperti halnya erupsi, selayaknya dirangkai dengan berbagai peristiwa lain seperti kebakaran hutan, pencemaran, hingga ke konsumsi energi dan kebijakan industri serta pangan yang mempengaruhi sumber daya alam.

Mengutip ‘Roga Sanghara Bhumi’ Jean mengingatkan, adanya ancaman ekologi yang serius di berbagai belahan bumi. Saatnya membuat gerakan penyelamatan ekologis melalui kebijakan yang kemudian diterapkan secara nyata. “Mudah-mudahan kepeloporan seperti itu disuarakan para petinggi saat pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia Oktober nanti,” katanya.

Risa Permanadeli, Pusat Kajian Representasi Sosial Indonesia, tengah memberikan materi saat dialog budaya di Griya Santrian Resort, jumat petang (24/08), Foto: Ist

Narasumber lain, Risa Permanadeli dari Pusat Kajian Representasi Sosial Indonesia, memaparkan muasal dimulainya kebutuhan perjalanan wisata oleh kaum pekerja di Barat, hingga Bali yang menanggung beban dan jebakan berhala pariwisata. Risa juga mengajak mencari Bali dalam arus besar masyarakat dunia dnegan melihat ulang seberapa jauh bergesernya dari Mandala Giri ke berhala industri pariwisata yang menjanjikan rejeki dan ilusi.

“Mari kita lihat ulang perubahan arus dan pola pariwisata masyarakat modern dengan ancaman baru dunia. Kini saatnya merumuskan keberanian untuk menegakkan kedaulatan Bali sebagai sebuah habitat kehidupan sosio-kultural yang tidak mungkin terlepas dari arus dunia,” ujarnya.

Salah seorang peserta dialog budaya di Griya Santrian Resort, jumat petang (24/08), Foto: Ist

Sementara Fotografer Ida Bagus Putra Adnyana atau Gustra, menarasikan budaya masyarakat gunung di Bali secara visual mengungkapkan optimisme turis tak banyak mengganggu kawasan giri. Gustra justru mengkritik warga Bali sendiri yang usai melakukan upacara tak segera membersihkan sampah plastik yang berserakan.

Ketua Umum Boost Sanur Villlage Ida Bagus Gede Sidharta Putra mengatakan, diskusi pariwisata dan diskusi budaya yang digelar dalam festival 2018 ini mengakomodasi berbagai kritik dan pendapat para cerdik-cendekiawan. “Hasil dialog ini tidak sekadar menjadi wacana, melainkan bisa diwujudkan dalam upaya memajukan Sanur dan memberi sumbangsih untuk Bali, serta Indonesia” pungkas pria yang akrab disapa Gusde ini. (EL)

Komen via Facebook