GWK, Ikon Baru Pariwisata Bali

151

GWK, Ikon Baru Pariwisata Bali

Oleh : Gregorius Rusmanda

SEBAGAI destinasi wisata, Bali sudah memiliki segalanya. Usianyapun sudah cukup senja, kalau diukur dari catatan Helen Eva Yates, 1914, wanita Inggris yang membuat semacam brosur pariwisata yang dipakai kapal Koninklijk Paketvaart Maatschapij (KPM) — milik pemerintah Belanda — untuk menggaet turis dari negeri kincir angin agar mau berlayar ke Bali. Namun, masih sangat belia kalau dibanding dengan destinasi-destinasi wisata di Eropa.

Okelah, kita ambil jalan tengah, Bali tengah dalam perjalanan ke arah kematangan (mature). Semestinya memang begitu. Tengok, hotel-hotel kelas dunia (chain hotel) hadir di Bali yang tarif per malam bisa mencapai Rp 30 juta. Ada juga restoran yang menyajikan menu sekali santap sampai Rp 5 juta per pax. Namun Bali juga punya hotel berbintang yang diobral Rp 200 ribu per malam. Itu baru dari segi akomodasi serta food and beverage. Masih banyak produk pariwisata lainnya, yang itu tadi, mahal sekali sampai murahan.

Pertanyaannya, destinasi macam apakah Bali? Low class? Middle up? Atau high class destination? Sulit menjawabnya, karena tidak pernah ada studi berapa banyak miliader dari sekitar 6 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan sekitar 10,5 juta wisatawan domestik (wisdom) yang berkunjung ke Bali. Namun hasil kajian Kementerian Pariwisata tahun 2016 bisa mungkin bisa memberi petunjuk. Disebutkan lama tinggal (length of stay) wisman ke Indonesia (termasuk Bali) , rata-rata 8,39 hari dengan rata-rata pengeluaran 131,6 dolar AS per hari atau 1.103, 81 dolar AS per kunjungan.

Bandingkan dengan hasil survei Kemenpar (Ekraf) dan Disparda Bali tahun 2011 yang menyebutkan, rata-rata lama tinggal (length of stay) wisman 9,27 hari dengan rata-rata pengeluaran 154,87 dolar AS per hari). Dari segi quality, Tentu saja telah mengalami penurunan yang cukup signifikan dalam rentang waktu lima tahun, walau dari segi quantity, jumlah kunjungan wisman ke Bali terjadi peningkatan setiap tahun.

Dengan mengacu pada kajian Kementerian Pariwisata tahun 2016 di atas, kalau iseng-iseng menghitungnya, setiap tahun tak kurang dari Rp 68 triliun devisa negara masuk melalui Bali. Jumlah ini terbilang luar biasa, walau baru sekitar 17% dibanding Singapura dan 13 persen dibanding Hongkong. Tanpa bermaksud ingin menyamakan negara Singapura dan Hongkong yang punya otorita birokrasi tersendiri, Bali termasuk destinasi yang membanggakan karena punya kemiripan dengan kedua destinasi tersebut.

Contohnya apa? Ada goyonan yang serius di antara kaum “the have” Ibukota; seorang belum dikatakan sukses kalau belum punya properti di Bali. Orang Jakarta kurang memiliki prestise kalau hanya menginap di hotel mewah sekelas Bulgari. Mereka akan sangat bangga, kalau bilang, “Gue punya villa atau kondotel di sono”, Asalkan adanya di Pulau Dewata, sangat membanggakan. (terlepas dari duit itu dari mana asalnya, halal atau money laundering).

Dan jangan salah, sebagian besar kondotel di Bali bukan dibeli sama orang asing, tetapi oleh kalangan the have, dari Jakarta, Badung, Surabaya, Jogya, Padang, Palembang, Manado dan Makassar. Seorang tokoh pariwisata Bali yang luas pergaulannya menukas,”Banyak petani sawit sukses dari Riau memiliki kondotel di Bali. Selain untuk investasi juga untuk gagah-gagahan, untuk mengukur siapa dia.” Luar biasa bukan? Sebegitu branded-nya Bali.

Inilah salah satu tanda-tanda Bali menjadi life style destination. Life style itu apa sih? Secara sosiologis, gaya hidup pada kedalaman tertentu adalah reproduksi, distribusi dan eksposisi simbol-simbol yang mewakili kesenangan (pleasure) serta pencapaian (achievement) seseorang (Bre Redana, 2002 : 76). Contoh sederhana, di bidang kuliner. Life style di situ mulai dari memilih restoran, menu, dengan siapa dia makan, ke sana mengendarai mobil jenis apa, berpakaian bagaimana?

Demikian juga di bidang fashion. Seseorang berbelanja di butik apa, pakaian merk apa, desainernya siapa, pernah nggak dikenakan artis Hollywood sekelas Julia Robert atau minimal dipakai Kris Dayanti. Barang-barang branded produk sekelas Giorgio Armani, Burberry, GUCCI, Hermes, Hollister, dll semua itu ada di Bali. Indikasi lainnya, produk-produk multinasional seperti KCF, Mc. Donals, Star Bucks kini ada di mana-mana. Chain hotel yang ada Berlin, Paris dan San Fransisco juga ada di Bali. Semua itu makin mengukuhkan Bali sebagai destinasi kelas dunia.

Namun, kalau dicermati, apakah semua itu menggambarkan identitas kelokalan Bali? Bukankah semua itu sekedar “aksesoris” karena “jualan” utama kita pariwisata budaya di mana tradisi pertanian menjadi sokoguru di dalamnya? Sebagai sebuah destinasi, kita harus mencari ikon atau symbol-simbol baru yang bisa direproduksi, didistribusi dan dieksposisi menjadi simbol masa kini. Sekedar komparasi, Kuala Lumpur punya menara kembar Pertonas, Singapura punya merlion dan kolam renang di atas awan (di Marina Bay Sends). Kemudian Bangkok dengan Grand Palace-nya.

Sementara Bali masih mereproduksi apa yang menjadi warisan dari para leluhur kita, yang pada batas tertentu sesungguhnya tidak pas untuk dijadikan objek wisata. Sebutlah sejumlah pura yang punya nilai sejarah dan religius di Bali, bukankah semestinya tak perlu terlalu dieksploitasi? Demikian komoditifikasi tarian sakral mestinya tak perlu terjadi. Tapi apa boleh buat, hanya itu yang kita punya. Jadi, sorry to say, sesungguhnya produk apapun di Bali saat ini hanya “mendompleng” ketenaran dari masa lalu.

Pada titik ini, kita perlu mengapresiasi kehadiran Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Jimbaran—yang baru diresmikan pada Sabtu (22/9). Walau pembangunannya terseok-seok, GWK kini menjadi semacam ikon baru bagi pariwisata dan budaya Bali. Kehadiran ikon baru seperti GWK yang berkonsep, berjati diri lokal namun sarat sentuhan teknologi tinggi sangat diperlukan Bali untuk “peremajaan” destinasi. GWK juga akan naik derajatnya menjadi tinggalan sejarah (legacy) bagi anak cucu di masa mendatang.

* Penulis wartawan pariwisata, tinggal di Denpasar

Komen via Facebook