Indra Lesmana Project Guncang Panggung Sanur Festival

52

Denpasar, Klikpena.com
Musisi jazz, Indra Lesmana mengguncang panggung Sanur Village Festival 2018 rabu (22/08/2018) malam. Dengan lagu perdana ‘Awakening’ dari album ‘Sacred Geometry’, Indra menyapa penggemar para penggemar musik metal progresif di Pantai Matahari Terbit, Sanur Bali.

Pempilalan Indra Lesmana Project (ILP) menarik perhatian pengunjung Sanur Village Festival, Para pengunjung pun merangsek ke depan panggung sambil mengacungkan jari telunjuk dan kelingking, simbol metal.

Disusul lagu ‘Acknowledge’ para personel unjuk kualitas teknik bermusik yang terampil. Mereka tampil memukau dengan masing-masing personel; Shadu Shah (bass), Kharisma (gitar), Muhammad Rayhan (gitar), dan Hata Arysatya (drum).

Group Band ‘Indra Lesmana Project’ saat tampil di panggung utama Sanur Village Festival, rabu malam (22/08), Foto: Istimewa

Selain dua lagu perdana, ILP juga membawakan lagu ‘Ascension’, dan ‘Acceptation’ dengan durasi yang panjang. Saat tempo musik meninggi tampak sejumlah penonton ‘headbang’ yakni menggerakkan kepala ke atas dan kebawah mengikuti tempo musik. Khas penonton musik metal. 

Belum lama ini, Indra memilih personel dari ratusan musisi yang ikut dalam audisi melalui media sosial Instagram. Indra akhirnya mendapatkan musisi yang menguatkan grup ini sangat cadas, di antaranya Kharisma yang juga gitaris Deadsquad.  

Togar P.O. Naibaho sang vokalis juga menyajikan suara yang melengking tinggi, mengingatkan pesona vokalis rock klasik 1980-an. Togar atau akrab disapa Ragot tampil dengan prima & powerfull, apalagi saat melakukan ‘scream’ seperti kerap mewarnai vokalis metal dengan ‘yelling falsetto’ yang gahar.

Personel Indra Lesmana Project, Foto: Viva.co.id/ Muhamad Yudha Prasetya

Indra Lesmana yang sejak kecil mengakrabi piano, keyboard dan syntesizer l, melakukan improvisasi yang rumit sebagaimana jalur jazz yang selama ini ditekuni. 

Menurut Indra, terbentuknya ILP terinspirasi dari erupsi Gunung Agung tahun lalu. Ketika itu ia bersama istrinya, Hon Lesmana, dan sejumlah relawan mengumpulkan bantuan bagi para pengungsi di Karangasem. 

“Saya merasakan energi besar Gunung Agung menggerakkan alam dan seluruh komponen masyarakat. Ini sangat luar biasa. Kita tak bisa menolak bencana alam, tetapi bagaimana menyikapinya dengan kearifan masing-masing,” ujarnya.

Indra menegaskan ILP bukan sekadar grup band, melainkan diproyeksikan menjadi sebuah gerakan kemandirian yang positif. Ia berharap langkah ini menajdi pemicu untuk terus meningkatkan kualitas kreativitas musik Indonesia.

Sepanjang karier bermusik, Indra terbiasa membawakan lagu dari berbagai genre, meskipun lebih dikenal sebagai musisi jazz. Indra bersama beberapa musisi juga pernah membuat grup rock.

“Jadi, tak masalah jika kali ini dia membawakan musik bernapas metal. Musik ILP itu kaya improvisasi, bagi saya mengalir seperti main jazz, tetapi dengan energi yang lebih mengguncang,” pungkasnya. (EL)

Komen via Facebook