Nelayan Resah, “Loloan Selok” Terancam Hancur

168

Mangupura, Klikpena.com-
Keberadaan Loloan Selok di alur muara Tukad Mati, di Desa Tuban, Kuta dikhawatirkan hancur, lantaran loloan (pertemuan air laut dan air tawar) diurug untuk proyek penataan long storage muara tukad mati yang mulai menyentuh teluk Benoa.

“Dulu kedalaman loloan itu diatas delapan meter, sekarang hanya sekitar satu meter. Saya lihat disana ada material menumpuk. Penimbunan itu membuat alur jadi dangkal,” kata Ketua Kelompok Nelayan Wanasari Tuban, Made Sumasa, Kamis (23/8/2018) malam yang sedang dalam penyebrangan ke NTB menyerahkan bantuan untuk korban gempa Lombok.  

Kondisi Loloan Selok makin hari makin dangkal dan terancam hancur


Semakin dangkal loloan tersebut membuat nelayan Wanasari menjadi resah. Pasalnya, loloan tersebut fungsinya vital untuk jalur lalulintas ketika air laut surut. Saat ini loloan tersebut mudah dilewati hanya pada saat air pasang.

Selain itu, proyek long storage tersebut membawa sampah ke Teluk Benoa, sedimentasi juga makin tinggi.  “Kita disini tidak tahu nantinya seperti apa. Dulu memang sempat ada sosialisasi sekali di Kuta, tapi tidak ada penjelasan lanjutan. Kami harap segera sosialisasi ke warga khususnya kelompok nelayan, sebab ini sudah menyentuh wilayah perairan Tuban,”paparnya.

Akibat proyek tersebut, beberapa pohon mangrove ditebang, padahal tanaman mangrove sudah rimbun dan lebat. Pihaknya tak mengerti kenapa hal itu dilakukan, sementara hutan mangrove itu kewenangan di UPT Tahura Ngurah Rai.

Sebagai nelayan yang konsen dengan konservasi mangrove, pihaknya menyayangkan hal tersebut. Sebab perlu waktu puluhan tahun membuat mangrove menjadi besar. “Miris melihatnya, kita di nelayan melakukan penanaman mangrove dengan susah payah. Mereka menebang sesukanya, apakah akan ada penggant atau bagaimana, kami juga tidak ngerti,”kritiknya.abi

 

Komen via Facebook