Protes Baliho Diturunkan, Pentolan Ormas Ditangkap

481
Pentolan ormas yang juga calon anggota DPD RI, Ketut Ismaya (kaus kuning) dan beberapa anggota ormas, harus menginap di Polresta Denpasar untuk menjalani pemeriksaan terkait aksi protes yang dilakukan di Kantor Satpol PP Bali, Senin (20/8) sore kemarin (klikpena.com/ist)

Denpasar, klikpena.com- Belasan anggota ormas terbesar di Bali melakukan protes di Kantor Satpol PP Bali, Senin (20/8) sore kemarin. Aksi ini dilakukan setelah petugas Satpol PP Bali menurunkan baliho Keris di Jalan Cok Agung Tresna, Denpasar, tepatnya disebelah Kantor Bapeda Bali. Baliho Keris ini merupakan baliho milik calon anggota DPD RI, I Ketut Putra Ismaya Jaya.  “Yang menurunkan Satpol PP Bali,” ujar sumber. Tidak terima baliho diturunkan, Ismaya dan belasan anggotanya mendatangi Kantor Satpol PP Bali,  menanyakan terkait penurunan baliho tersebut pada Senin sekitar pukul 15.30 wita.

Ternyata, aksi protes yang dilakukan belasan anggota ormas ini berlanjut sampai ke kantor polisi. Beberapa saat setelah aksi protes ini, polisi langsung melakukan penangkapan  terhadap, Ketut Ismaya, pentolan ormas terbesar di Bali yang juga pemilik baliho tersebut. Penangkapan ini terkait dugaan penganiayaan dan pengancaman dalam protes yang dilakukan di Kantor Satpol PP Bali.

Informasi yang diperoleh klikpena.com,  saat protes itulah ada penganiayaan berupa tendangan yang dilakukan anggota ormas terhadap anggota Satpol PP. Massa sendiri akhirnya dibubarkan polisi  setelah  sebelumnya salah satu pejabat Satpol PP menemui mereka dan memberikan keterangan. “Massa lalu dibubarkan petugas  Shabara Polresta Denpasar,” jelas sumber.

Setelah aksi protes ini, Polresta Denpasar lalu mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Ismaya. Calon anggota DPD RI ini  ditangkap di salah satu lokasi di Denpasar dan langsung menjalani pemeriksaan di Polresta Denpasar. Beberapa anggota ormas juga terlihat menunggu di sekitar Polresta Denpasar hingga Senin malam. Polisi bersenjata lengkap juga nampak menjaga pintu gerbang Polresta Denpasar yang terkunci rapat.

Kuasa hukum Ismaya, Togar Situmorang yang dihubungi,   Senin malam membenarkan penangkapan yang dilakukan polisi terhadap kliennya, Ketut Ismaya. Togar mengatakan banyak kejanggalan dalam penangkapan yang dilakukan polisi. “Awalnya diajak minum kopi. Tapi waktu datang polisi ternyata sudah bawa surat penangkapan,” terangnya.

Ia juga mempertanyakan laporan polisi yang digunakan untuk menjerat Ismaya. Awalnya polisi menggunakan Laporan model A. Dimana polisi sebagai pelapornya. Namun belakangan dirubah menjadi model B. Laporan model B ini merupakan laporan yang dibuat korbannya. “Tapi tidak jelas siapa pelapornya. Karena tidak ada korbannya,” ungkap  Togar.

“Saya juga punya bukti WhatsApp dengan orang Satpol PP Bali yang mengatakan tidak pernah ada membuat laporan ke polisi,” lanjut  pengacara asal Batak ini.

Ia menduga kasus ini sengaja dibuat untuk menghentikan Ismaya yang akan maju menjadi calon anggota DPD RI. “Kami menduga ada yang menggunakan alat negara untuk untuk mematikan perjuangan Ismaya sebagai calon anggota DPD RI,” pungkasnya.  tim

 

Komen via Facebook