Tekuni Bisnis Narkotika, Anggota Ormas Dituntut 11 Tahun Penjara

72
Terdakwa Juni Artana alias Giant seakan tidak percaya dirinya dituntut 11 tahun oleh jaksa atas kepemilikan narkotika jenis sabu. Terdakwa tidak hanya menjual sabu tetap juga rumahnya dijadikan tempat untuk pemakai narkoba (Klikpena.com/Dickmina)

Denpasar, Klikpena.com –  Terdakwa dalam kasus narkotika, I Nyoman Juni Artana alias Giant hanya bisa melongo ketika mendengar tuntutan jaksa terhadap dirinya. Begitu juga isteri dan saudaranya yang duduk di kursi pengunjung sidang, seakan tidak percaya. Pasalnya, dalam sidang yang digelar, Kamis (20/9) di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Wayan Sutarta dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali ini, menuntut terdakwa dengan pidana  penjara 11 tahun.

Dalam persidangan dengan majelis hakim yang diketuai, Ni Made Purnami ini, jaksa Sutarta juga dibebani untuk membayar denda Rp1 miliar, subsidair 6 bulan penjara. Dalam tuntutannya, Wayan Sutarta menyimpulkan bahwa terdakwa berusia 54 tahun ini terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana bisnis narkotika yakni menjual, membeli, menawarkan dan sejenisnya. Perbuatan pesakitan berambut gondrong ini melanggar Pasal 114 ayat 1 UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Terungkap dalam persidangan,  Senin, 22 Januari 2018 sekitar pukul 13.00 wita, petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bali melakukan penggerebekan di rumah terdakwa yang juga anggota salah satu ormas besar di Bali di Jalan Uluwatu No. 37, Jimbaran, Badung. Dalam penggerebekan ini, petugas berhasil mengamankan 15 orang termasuk Giant dan istri keduanya, Vina.

Jaksa Wayan Sutarta menuntut tinggi terdakwa Juni Artana dengan pidana penjara 11 tahun dalam sidang yang digelar, Kamis (20/9) di PN Denpasar. Terdakwa, anggota salah satu ormas ini dinilai dinilai bersalah dengan menekuni bisnis narkotika (Klikpena.com/Dickmina)

Dari penggeledahan di kamar Giant, petugas mendapati 11 paket narkotika jenis sabu dengan berat total 5,27 gram. Dari 15 orang yang diamankan, penyidik BNNP Bali kemudian menetapkan  3 orang tersangka yakni, Giant dan dua rekannya, Ketut Sudiarta dan Wayan Sukarada.

Sudiarta dan Sukarada ditangkap di halaman rumah milik Giant saat melakukan transaksi. Saat melakukan penggeledahan badan Sudiarta, petugas menemukan satu paket sabu seberat 0,38 gram.  Sementara pada badan  Sukarada saat itu petugas mendapatkan dua paket sabu 0,8 gram, satu HP dan uang tunai Rp 2.047.000 yang diterima baru diterima dari Sudiarta.

Terungkap, terdakwa Giant dalam menjalankan bisnis ini tidak hanya menyediakan narkotika dan pengedar tetapi juga tempat bagi mereka yang ingin memakai narkotika sabu. Sementara Sukarada yang masih ada hubungan keluarga dengan Giant merupakan kaki tangannya sebagai perantara atau yang menjualkan pada konsumen (pembeli). Sedangkan Sudiarta sebagai pelanggan tetapnya. Bila ada yang memesan barang maka si Sukarada yang mengantarkan.

Modus yang dilakukan tersangka Giant hampir sama dengan kasus yang dilakukan oknum Anggota DPRD Bali Komang Swastika alias Jero Jangol alias Mang Jangol. Sama halnya dengan terpidana narkotika Mang Jangol, Giant juga mempergunakan rumahnya sebagai tempat transkasi narkotika. Tak jarang juga dipakai pesta sabu-sabu.

Sementara dalam keterangannya, Giant mengaku sudah menekuni bisnis narkotika dengan menggunakan rumahnya selama kurang lebih setahun. Awalnya dia mendapat barang tersebut dari seseorang yang  berada didalam Lapas Kerobokan, Denpasar. Narkotika pembeberian ini kemudian dia gunakan bersama istrinya. Setelah itu timbul niatnya untuk terjun dalam bisnis haram ini.  DM

Komen via Facebook