Mendikbud Buka Seminar Internasional SEAMEO 2018

52
Mendikbud, Muhadjir Effendy saat membuka Seminar Internasional SEAMEO 2018, di Hotel The Stone, Kuta, Bali, Rabu (19/09/2018) pagi. Foto: Edi Kleden

Kuta, Klikpena.com
Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Membuka Seminar Internasional Pendidikan Asia Tenggara di Hotel The Stone, kawasan wisata Kuta, Bali, Rabu (19/09/2018) pagi. Seminar yang digelar berkat kerjasama Kemendibud dan Sekretariat Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) itu, membahas agenda prioritas pendidikan Asia Tenggara.

“Hari ini kita telah melakukan pembukaan konferensi Organisasi Menteri-menteri Pendidikan dan Kebudayaan se-ASEAN. Ada 7 agenda yang akan dibahas dalam konferensi ini,” Ujar Mendikbud, sekaligus sebagai Presiden SEAMEO Council, Muhadjir Effendy, saat membuka seminar tersebut.

Seminar ini membahas tentang agenda pendidikan SEAMEO atau tujuh area prioritas 2015-2035. 7 agenda prioritas yang dibahas dalam seminar masing-masing: mempromosikan pendidikan universal bagi anak usia dini; mengatasi hambatan inklusi; mempromosikan ketahanan dalam menghadapi keadaan darurat; mempromosikan pendidikan pelatihan teknis dan kejuruan; revitalisasi pendidikan guru; harmonisasi pendidikan tinggi dan peneliti, serta; mengadopsi kurikulum abad ke-21.

“Target dari pembahasan tujuh prioritas tersebut adalah dapat saling bertukar informasi tentang pendidikan di masing-masing negara, kemudian berbagi pengalaman baik dalam menghadapi problem yang dihadapi. Masing-masing negara memiliki cara masing-masing untuk menangani masalah-masalah dari tujuh prioritas tersebut,” papar Mendikbud.

Seminar Internasional Pendidikan Asia Tenggara di Hotel The Stone, Kuta, Bali, Rabu (19/09/2018) pagi. Foto: Ambros Boly

Penyelenggaraan seminar ini diharapkan juga dapat meningkatkan kesadaran regional dan program nasional, serta rencana aksi yang dihasilkan dari sinergi dinamis, kekuatan, strategi, dan standar yang dikembangkan oleh negara-negara anggota SEAMEO yang mengarah pada pengembangan paradigma pembelajaran inovatif dan kebijakan pendidikan proaktif dalam mempromosikan tujuan pembangunan berkelanjutan dan agenda pendidikan SEAMEO.

Selain itu, untuk menyebarluaskan pemahaman regional, komitmen untuk aksi bersama, kerja sama timbal balik yang lebih erat di antara aktor pendidikan dan pemangku kepentingan di Asia Tenggara dalam memajukan kualitas pembelajaran serta memastikan akses yang lebih luas terhadap pendidikan di wilayah tersebut.

“Kita sudah mulai identifikasi keunggulan masing-masing negara dalam bidang sains dan teknologi, sehingga saat ini sudah mengarah pada transfer sains dan teknologi antar negara anggota ASEAN. Mudah-mudahan pertemuan ini banyak memberikan manfaatnya, kedepan terutama untuk menyongsong era industri 4.0,” harap Mendikbud.

Seminar Internasional Pendidikan Asia Tenggara di Hotel The Stone, Kuta, Bali, Rabu (19/09/2018) pagi. Foto: Ambros Boly

Seminar internasional ini akan menghadirkan 11 narasumber yang membahas beragam topik dalam mendukung pembangunan berkelanjutan sebagai panduan untuk menyusun paradigma pembelajaran baru yang responsif terhadap realitas sejarah, budaya dan sosial. Metode seminar digelar dengan sesi pleno dan sesi parallel, dimana para peserta dikelompokkan menjadi enam siding pleno di ruangan terpisah dengan topik bahasan masing-masing agenda prioritas.

Direktur SEAMEO Sekretariat, Gatot Hari Priowirjanto, mengatakan, sekitar 250 peserta dari beragam latar belakang pendidikan, termasuk pembicara dan perwakilan pendidikan dari 11 negara anggota SEAMEO dan Selandia Baru. Selain itu, hadir juga administrator dan pendidik dari organisasi pemerintah, serta lembaga pendidikan publik dan swasta.

“Indonesia memiliki 8 pusat SEAMEO dan merupakan terbanyak diantara negara lainnya yakni masing-masing; SEAMEO BIOTROP, SEAMEO RECFON, SEAMEO SEAMOLEC, SEAMEO QITEP in Language, SEAMEO QITEP in Mathematics, SEAMEO QITEP in Science, SEAMEO CECCEP, dan SEAMEO VOCTECH. Sejumlah agenda pembahasan diantaranya pembahasan difabel, pendidikan anak usia dini, teknik penangana bencana bagi pendidikan, standarisasi hasil lulusan sehingga bisa bisa bekerja di kawasan negara asean” ujar Gatot saat mendampingi Mendibud.

Mendikbud, Muhadjir Effendy saat menyerahkan Ki Hajar Dewantara Award kepada para pemerhati pendidikan, di Hotel The Stone, Kuta, Bali, Rabu (19/09/2018) pagi. Foto: Edi Kleden

Seminar Internasional ini menjadi platform bagi para peserta untuk berbagi paradigma dan praktik pembelajaran baru, bertukar perspektif tentang isu-isu terkini seputar pendidikan di Asia Tenggara serta mempromosikan pemahaman bersama tentang bagaimana negara anggota dapat mengatasi perubahan dan tantangan yang dihadapi oleh negara-negara dalam wilayah untuk mencapai agenda pendidikan SEAMEO menuju Asia Tenggara yang berkelanjutan.

Turut hadir dalam seminar ini Ananto Kusuma Seta, Staf Ahli Mendikbud Bidang Inovasi dan Daya Saing, Paristiyanti Nurwadani, Direktur Pembelajaran, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dan Siti Rohaiza binti Haji Ahmad, Dosen Pengiran Anak Puteri Rashidah Sa’adatul Bolkiah (PAPRSB), Institut Ilmu Kesehatan, Universitas Brunei Darussalam). Para pembicara dalam sesi pleno, terdiri atas Marek Tesar, Associate Dean International, Fakultas Pendidikan dan Pekerjaan Sosial, The University of Auckland, Selandia Baru; Sim Samnang, Wakil Direktur Jenderal, Departemen TVET, Kementerian Tenaga Kerja dan Pelatihan Kejuruan, Kamboja; Mr. Aw York Bin, Wakil CEO Industri & Layanan, Institut Pendidikan Teknik, Singapura. (EL)

Komen via Facebook