Ahli Hukum Pidana Simon Nahak, Menuju Senayan

380
DR. Simon Nahak, SH MH, Foto: Ist

Denpasar, Klilpena.com
Tanah Timor memanggil salah satu putra terbaiknya untuk untuk bertarung ke Senayan pada Pileg 2019. Dialah Dr. Simon Nahak, SH, MH. Pria kelahiran tanah Malaka ini, 31 tahun melanglang buana di Pulau Dewata menimba ilmu dan berkarya sebagai Akademisi dan Praktisi. Kendati berkarya di Bali, Ketua Program Studi S2 Universitas Warmadewa telah banyak membantu daerah asalnya. Kini nurani Simon terpanggil kembali mengabdi di tanah kelahirannya dengan terjun ke dunia politik melalui Partai Perindo.

Sosok lawyer dan dosen asal NTT ini tak asing bagi warga Pulau Dewata. Namun tak hanya itu karena selain sebagai advokat Simon juga menjadi tenaga pengajar bergelar doctor di kampus Universitas Warmadewa Bali. Dengan posisi sebagai Ketua Program Studi Magister Hukum ini, membuat sosok Simon tak asing bagi Mahasiswa Warmadewa asal Nusa Tenggara Timur. Doktor jebolan Universitas Brawijaya Malang ini banyak membantu mahasiswa NTT yang mengalami kesulitan saat menimba ilmu di kampus Warmadewa Denpasar.

DR. Simon Nahak, saat bersama keluarga Belu dan Malaka di Bali, Foto: Ist

Putra pertama dari 8 bersaudara, buah hati pasangan Marselinus Taek dan Bernadeta Hoar ini, lahir dari keluarga sederhana di Belu 13 Juni 1964, kemudian masuk Sekolah Dasar di Desa Weoe tamat tahun 1977. Setelah lulus SD, Simon Nahak mulai meninggalkan orang tuanya dan mendaftar masuk SMP St. Fransicus Xaverius Kefamenanu, TTU dan tamat tahun 1984.

Setelah tamat SMP, Simon mencoba merantau ke Kota Kupang ibukota Propinsi NTT dan mendaftar di SMU Katolik Giovani . Namun atas permintaan ibu kandungnya, Simon akhirnya pindah kembali ke daerah asalnya dan melanjutkan sekolahnya di SMU Sinar Pancasila Betun Kab Malaka. Seperti anak sulung lainnya di NTT, Simon sambil membantu ayahnya di ladang dan ibunya di rumah untuk mengurus adiknya 6 orang adiknya, karena satu orang adiknya Paulus Bria meninggal dunia tahun 1967 saat simon masih di bangku SD.

Sosok Simon Nahak dikenal cerdas oleh rekan-rekan seangkatannya bahkan para gurunya turut memberikan support agar kelak simon dapat menyelesaikan pendidikannya setinggi mungkin. Tak hanya itu, simon juga selalu responsif membantu teman sekolahnya disaat mereka membutuhkan bantuan tanpa pamrih hingga akhirnya tamat pada tahun 1987.

Simon Nahak, saat bersama rekan kuliahnya di kampus Warmadewa Denpasar, Bali, Foto: Ist

Usai tamat SMU, Simon memilih Hijrah ke Pulau Dewata Bali pada tahun 1987 dan mendaftar sebagai mahasiswa di universitas Warmadewa Denpasar. Karena cerdasnya, Simon diangkat menjadi asisten dosen pada semester 5 di kampus ini sambil terus menyelesaikan pendidikan strata satu.

Pasca Lulus dengan predikat cumlaude di Kampus Warmadewa tahun 1992, Simon Nahak masih terus mengajar di Kampus Almamaternya. Sambil menyelam minum air, Simon mencoba terjun ke dunia Advokat (Pengacara) hingga akhirnya namanya mulai dikenal masyarakat Bali selain mahasiswa didikannya. Selama karier advokat, Simon tak hanya menangani perkara yang menimpa orang Indonesia namun sejumlah warga negara asing yang terjerat hukum di Bali juga menggunakan jasanya sebagai kuasa hukum.

Simon Nahak saat wisudah dengan predikat cumlaude di Kampus Warmadewa tahun 1992, Foto: Ist

Simon melanjutkan pendidikan magister hukum di kampus Universitas Udayana (Unud) Bali pada 2001 hingga tamat pada tahun 2004.

Seolah tak puas menyandang gelar Magister Hukum Internasional, Simon Nahak memilih Universitas Brawijaya Malang untuk mengejar gelar Doktor Hukum Pidana pada tahun 2010 dan tamat dengan predikat cumlaude pada tahun 2014. Nama Simon Nahak semakin terkenal di kalangan pengacara, hingga akhirnya terpilih menjadi DPP Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) Bali Nusa Tenggara tahun 2010-2015 dan Ketua AAI Kota Denpasar tahun 2014-2019. Selama menjabat DPP AAI, Simon juga terpilih menjadi Ketua Dewan Pakar Peradi Kota Denpasar 2015-2018.

Meskipun terkenal sebagai lawyer, doktor Simon Nahak tak meninggalkan almamaternya Universitas Warmadewa, tempat dirinya ditempa menjadi sarjana hukum. Simon masih terus menjadi dosen di kampus ini hingga akhirnya diangkat menjadi Ketua Program Studi Magister Hukum pada tahun 2015 hingga sekarang.

DR. Simon Nahak saat membantu pengadaan air bersih di wilayah TTS, NTT

Selama 31 tahun di Bali, Simon Nahak tak lupa kampung halamannya Tanah Timor, tempat dia menghabiskan masa kecilnya hingga tamat SMU. Dengan keahlian dan jaringan yang dimilikinya, Simon terpanggil untuk membantu masyarakat daratan timor dengan berbagai aktifitas sosialnya.

Sosok yang bersahaja ini beberapa kali memberikan bantuan hukum dengan cara konsultasi hukum gratis di wilayah pulau sumba dan daratan timor, termasuk memberikan konsultasi hukum secara gratis di LP Penfui Kupang. Tak hanya itu, Simon juga membantu masyarakat dalam bentuk air bersih berupa pengadaan pipa di Desa Pisan TTS dan Desa Oeekam kecamatan Malaka, Desa Sulit Anametan di kecamatan Malaka Timur.

DR. Simon Nahak saat membantu pengadaan air bersih di wilayah TTS, NTT

Selain air bersih, Simon juga membantu pengadaan bibit untuk gereja di kecamatan Kupang Barat, bantuan pengadaan kabel untuk listrik di desa berene kecamatan reinhat kabupaten Malaka. Berbekal pengamalannya di Pulau Dewata Bali yang terkenal pariwisatanya, Simon akhirnya berpikir untuk membantu fasilitas pariwisata berupa bangunan lopo di kawasan wisata Panai Loodik kecamatan Kobalima, kabupaten Malaka serta Pantai Hanimasin kecamatan Wewiku perbatasan TTS.

DR. Simon Nahak saat memberikan bantuan bibit cabai kepada pendeta Klasis Kupang Barat, NTT, Foto Ist

Seiring berjalannya waktu dengan realitas penerapan hukum dan perpolitikan di Tanah Air, membuat Putra Malaka ini terpanggil untuk terjun ke dunia politik melalui Partai Perindo besutan pengusaha terkenal MNC Group, Harry Tanoe Sudibyo. Simon berharap, masyarakat daratan Timor, Rote, Ndao Sabu dan Sumba, dapat memberikan kepercayaan kepada dirinya untuk membantu masyakarat dari Senayan melalui Daerah Pemilihan NTT 2 dengan nomor urut 4.

Ditemui di Bali, Doktor Simon Nahak, SH MH, menyampaikan sejumlah alasan mengapa dirinya terjun ke dunia politik. “Banyak orang mengatakan bahwa NTT ini sudsah untuk maju karena banyak “T” nya, tertinggal, tertindas, terlantar, terbodoh, termiskin. Nah ini kita sebagai orang yang betul-betul dilahirkan dan dibesarkan di NTT kalau kita tidak kembali untuk berbuat siapa lagi, dan kalau bukan sekarang kapan lagi. Kita tidak bisa terus-terusan menjadi penonton, saya kira sudah waktunya Putra daerah mengambil bagian. Jadi kenapa saya harus berbalik arah, mendingan tahun depan saya kejar menjadi Guru Besar setelah predikat Doktor yang saya sandang sekarang dan sudah mengajar beberapa Negara ya buat apa lagi. Tapi buykan itu, aya ingin bernuat kepada masyarakat kita terumata saya melihat bahwa menjadi anggota legislatif kalau kita ingin betul berbuat baik untuk masyarakat” papar simon

DR. Simon Nahak saat bersama warga Desa Pisan, Kecamatan Oeekam, Kab. TTS, NTT, Foto: Ist

Lanjut simon “ NTT ini orang-orangnya SDMnya masih kurang, fasilitas pendidikannya tidak disiapkan. Apakah ini terus menjadi wacana kemudian kita terus menjadi penonton? Kalau bisa saya masuk untuk memperjuangkan NTT. Sebetulnya ada dua hal yakni bidang hukum dan pendidikan, misalnya korupsi tertinggi ada di NTT tapi sulit untuk memberantas. Menjadi aneh ketika propinsi termiskin tetapi juga terkorup. Andaikata tidak terkorup ya gak mungkin termiskin dong. Nah ini persoalan hukum yang sulit sekali membongkar perbuatan mereka yang terstruktur dan berjamaah sehingga sulit sekali untuk menyentuh. Apakah saya puas dengan doktor hukum pidana yang betul-betul sangat memahami persis tulang-tulang untuk membongkar itu.

Tak hanya di bidang Hukum, simon menegaskan orang NTT pintar dan cerdas, smart, tetapi iotu semua harus didukung dengan fasilitas, sarana prasarana pendidikan, dan itu semua harus diperjuangkan di pusat. Dan saya terpanggil untuk mengawasi karena salah satu fungsi dewan itu adalah mengontrol mengawasi, sehingga angggaran yang turun itu betul-betul dimanfaatkan. Tidak hanya diterima kemudian dikorupsi ramai-ramai oleh orang-orang kita lalu kemudian habis dan teriak lagi NTT itu bodoh. Ya semua itu harus dirubah jadi ada dua “T” yang menjadi prioritas saya perjuangkan ya bidang hukum dan pendidikan” tutup Simon (EL)

Komen via Facebook