Terancam 15 Tahun Penjara, Terdakwa WN Ukraina Asyik Video Call

142
Jaksa Paulus Agung begitu saja pergi meninggalkan terdakwa WN Ukraina, Kutsenko Andri (kiri), seusai sidang pembacaan dakwaan. WN Ukraina ini ditangkap petugas saat mengambil paket biji ganja yang dikirim dari Spanyol di Kantor Pos Renon, Denpasar (klikpena.com/Dickmina)

Denpasar, Klikpena.com  – Ada yang menarik dalam sidang dengan terdakwa WNA asal Ukraina, Kutsenko Andri, yang digelar, Selasa (18/9) di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. Seusai sidang pembacaan dakwaan, Jaksa Penuntut Umum (JPU)  Paulus Agung Widaryanto tanpa beban, begitu saja pergi meninggalkan terdakwa. Entah karena berusaha menghindar dari wartawan yang ingin meminta dakwaan, jaksa dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali ini membiarkan terdakwa tanpa diborgol didalam ruangan sidang.

Merasa tidak ada jaksa dan petugas tahanan, terdakwa keluar dari ruang sidang dan duduk santai bersama seseorang yang juga warga negara asing, berbaur dengan pengunjung sidang lainnya. Terdakwa dengan santainya ngobrol dan kemudian terlihat asyik video call dengan seseorang. Sekitar 10 menit kemudian baru datang petugas penjaga tahanan yang memborgol dan menyuruh terdakwa memakai baju rompi tahanan, sementara jaksa Paulus Agung entah kemana perginya.

Perlakukan istimewa diberikan jaksa kepada terdakwa berkebangsaan Ukraina ini. Tanpa diborgol dan dikawal petugas, terdakwa dibiarkan duduk dikursi pengunjung yang ada di luar ruang sidang dan bebas menelpon sementara jaksa pergi entah kemana (Klikpena.com/Dickmina)

Terdakwa berkebangsaan Ukraina, Kutsenko Andri yang sedang berlibur di Bali ini harus menghabiskan waktu liburnya di balik jeruji besi.  Pasalnya, Lelaki berusia  23 tahun kelahiran Kharkivska Obi, Ukraina, ini didudukan jaksa, Paulus Agung Widaryanto, dikursi  terdakwa dalam perkara narkotika. Terdakwa, Kutsenko Andri menjalani sidang perdana dan didakwa memiliki dan menguasai 16 butir biji ganja yang diimpor dari Spanyol.

‎Jaksa Paulus Agung dalam dakwaannya meguraikan, terdakwa selama di Bali tinggal di Tirta Bungalow, Sayan, Ubud, Gianyar ini ditangkap polisi,  5 Mei 2018 pukul 10.40 wita  di Kantor Pos, Jalan Puputan, Renon, Denpasar.

“Terdakwa tanpa hak melawan hukum memproduksi, megimpor, mengekspor, atau menyalurkan narkoba golongan I berupa tanaman, yaitu 16 butir biji ganja yang diduga mengandung sediaan narkotika seberat 0,26 gram netto,” ungkap Paulus Agung dalam persidangan dengan majelis hakim yang diketuai, I Wayan Kawisada tersebut.

Terdakwa ditangkap saat akan mengambil paket kiriman barang dari Spanyol dengan nomor paket: RF 139737868ES.  Pada tanggal 5 Mei 2018, terdakwa datang ke Kantor Pos sekitar pukul 09.30 wita. Namun, curiga melihat gerak – gerik terdakwa. Petugas dari Kantor Bea dan Cukai tipe Madya Pabean Ngurah Rai yang bertugas di Kantor Pos Indonesia bersama petugas dari BNNP Bali yang  mengawasi paket di area mall procesing kemudian menangkap terdakwa.

Jaksa Paulus Agung begitu saja pergi meninggalkan terdakwa WN Ukraina, Kutsenko Andri (kiri), seusai sidang pembacaan dakwaan. WN Ukraina ini ditangkap petugas saat mengambil paket biji ganja yang dikirim dari Spanyol di Kantor Pos Renon, Denpasar (klikpena.com/Dickmina)

Setelah paket diterima terdakwa, petugas langsung menghampiri dan memeriksa terdakwa. Petugas meminta terdakwa membuka kiriman paket amplop yang ditujukan kepada Kutseko Kyrylo dengan pengirim High Solution beralamat Apartado Correos 7143840, Spanyol tersebut. “Setelah amplop dibuka terdapat satu potong baju warna putih, Didalam baju tersebut diselipkan amplop cokelat kecil berisi 16 butir biji ganja dengan berat 0,26 gram,” urai jaksa.

Terdakwa kemudian diamankan dan dari pemeriksaan awal terdakwa  mengaku barang tersebut miliknya  yang dikirim oleh seseorang yang  bernama Bodgan. Menurut terdakwa, Bodgan sebelumnya menghubungi dirinya dan mengatakan akan memberi kejutan dengan mengirimkan paket. Atas perbuatan terdakwa ini, jaksa Paulus Agung menjeratnya dengan Pasal 113 ayat (1)  dan Pasal 127 ayat (1) UU No 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman pidana paling lama  15 tahun penjara. DM

Komen via Facebook