Cabuli Murid, Wakasek Dwijendra Disidang

379
WAKASEK CABUL Guru tari yang didakwa melakukan pencabulan dan persetubuhan dengan anak didiknya ini dengan tangan diborgol digiring kembali ke sel setelah menjalani sidang. (klikpena/Dickmina)

DENPASAR, KLIKPENA.COM Oknum Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Kesiswaan di SMA Dwijendra Denpasar, Putu Arif Mahendra alias Arif disidangkan, Senin (16/7) di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar.

Didakwa melakukan perbuatan biadab dengan mencabuli dan pelecehan seksual kepada anak didiknya, guru berusia 32 tahun ini terancam 15 tahun penjara.

Dipersidangan yang berlangsung tertutup dengan majelis hakim yang diketuai, Novita Riama, terdakwa Arif Mahendra didakwa oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Putu Oka,  dengan dua pasal yakni,   Pasal 81 Ayat 3 dan Pasal 81 ayat 2   UU No. 35.Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Terdakwa, Putu Arif Mahendra yang menjabat sebagai Wakasek bidang kesiswaan di SMA Dwijendra Denpasar terancam 15 tahun penjara. Dalam sidang, Senin (16/7) di PN Denpasar. (klikpena/Dickmina)

Terdakwa sebagai guru bagian kesiswaan dan guru seni budaya di SMA Dwijendra dituding melalukan pelecehan dan pencabulan serta  persetubuhan yang diawali dengan pemaksaan dan pengancaman terhadap anak didiknya sendiri berinisial Sag,  yang masih berusia 16 tahun.

Terungkap, Korban dan terdakwa sudah lama kenal yakni sejak korban SMP dan kut kegiatan  ekstrakulikuler seni tari dimana terdakwa adalah guru pembimbingnya (guru tari).

Pada tanggal 28 Desember 2017, korban Sag, menghubungi terdakwa melalui aplikasi Line untuk menanyakan siapa pasangan menarinya. Namun  terdakwa membalasnya dengan rayuan,

“Bisa gak kita ketemuan kapan-kapan? Kita pacaran yuk”.

Dua hari kemudian, saat latihan menari korban diminta menemui terdakwa lebih awal di ruang Akreditasi lantai 1 dekat ruang guru. Ketika ketemu, guru tari ini mulai melecehkan korban dengan  mencium dan meraba. Korban tak melawan karena takut atas ancaman terdakwa, korbanmenolak maka tidak usah ikut menari lagi. Ulah terdakwa terus terulang, hingga terdakwa sering video call sex dengan korban melalui aplikasi medsos.

Hingga Januari 2018, terdakwa mengajak korban ketemu di Hotel Oranje, Denpasar sekitar pukul 13.30 wita usai latihan menari persiapan HUT Yayasan Dwijendra. Korban Sag, sempat menolak bertemu, namun lagi-lagi korban diancam untuk tak diikutkan menari lagi. Korban datang persetubuhan itupun terjadi.

Kejadian itu dengan TKP yang sama terus diulangi hingga Maret 2018. Bahkan terdakwa juga pernah mengajak satu korban lagi yang tak lain teman sag yakni Tin, untuk bersama berhubungan seks.

Pada tangal 3 Maret 2013, terdakwa kembali menghubungi korban untuk melakukan hal yang sama. Korban diminta menunggu di depan sekolah SMP di Jalan Trengguli, Denpasar  untuk diajak ke Penginaan Pondok Wisata di Jalan Siulan, Denpasar Timur.

Tanpa diketahui terdakwa, sebelum bertemu, korban sempat bercerita dengan salah satu temannya yang lain berinisial Tik lewat percakapan di salah satu aplikasi medsos. Teman korban, Tik kemudian menyebarkan percakapan dengan korban Sag.

Screenshot atau foto percakapan yang akhirnya menyebar di jejaring sosial bahkan menjadi viral di Instagram dan Facebook itupun sampai ke kuping,  Ayu E, ibu kandung korban. Tanpa menunggu lagi, Ayu E melaporkan tindakan yang dialami anaknya ke Polresta Denpasar. Perbuatan bejat yang dilakukan wakasek kelahiran Busungbiu, Buleleng inipun berakhir setelah
ditangkap Satreskrim Polresta Denpasar 21 Maret lalu. Terdakwa akhirnya harus merasakan panasnya kursi pesakitan dan terancam 15 tahun hidup dibalik jeruji besi.  (Dickmina)

Komen via Facebook