Tirtawan Sindir KPU Bali: Gunakan Kalkulator Hitung Kuota 30% Perempuan

63

Denpasar, Klikpena.com
DPW Partai NasDem Provinsi Bali resmi menggugat keputusan KPU Bali ke Bawaslu Bali, Senin (13/8/2018). Gugatan dilakukan, lantaran KPU Bali menggugurkan seluruh bakal calon legislatif (Bacaleg) DPRD Bali Dapil 5 Buleleng karena tak memenuhi kuota 30 persen perempuan.

Gugurnya seluruh Bacaleg itu berawal dari status salah satu Bacaleg perempuan yang yang tak memenuhi syarat (TMS). Awalnya Partai NasDem mendaftarkan 12 Bacaleg ke KPU Bali.

Namun saat verifikasi, Bacaleg nomor urut 9, Erna Indraswari, dinyatakan TMS. Partai NasDem kemudian menggantinya dengan Ni Komang Nilawati.

Dalam verifikasi lanjutan, ternyata Nilawati sudah pernah didaftarkan jadi Bacaleg DPRD Kabupaten Buleleng, Dapil Kecamatan Busungbiu-Sawan. Berdasarkan PKPU Nomor 20 Tahun 2018, tidak diperbolehkan Caleg didaftarkan dua kali. Sehingga dalam proses verifikasi, Nilawati dinyatakan TMS.

Karena Nilawati dinyatakan TMS membuat komposisi Caleg NasDem tidak memenuhi syarat kuota 30 persen perempuan. Hal ini yang membuat seluruh Bacaleg NasDem Dapil Buleleng gugur.

Nyoman Tirtawan, salah satu Bacaleg NasDem Dapil Buleleng yang dinyatakan gugur itu menilai, keputusan KPU Bali tersebut aneh. Ia menegaskan, kendati ada satu Bacaleg perempuan yang TMS, namun kuota 30 persen perempuan tetap terpenuhi.

Ia menjelaskan, awalnya NasDem mendaftarkan 12 Bacaleg dengan jumlah Bacaleg perempuan empat orang. Karena satu Bacaleg perempuan dinyatakan TMS, KPU Bali menyarankan kepada Partai NasDem untuk mencoret satu Bacaleg laki-laki.

Saran itu dipenuhi. Partai NasDem menyerahkan surat pengunduran diri satu Bacaleg laki-laki tersebut ke KPU Bali. Dengan demikian, jumlah Bacaleg NasDem menjadi 10 orang dengan jumlah Bacaleg perempuan tiga orang.

Menurut Tirtawan, dengan jumlah 3 Bacaleg Perempuan dari total 10 Bacaleg NasDem yang memenuhi syarat, maka itu sudah memenuhi 30 persen perempuan.

“Satu Bacaleg Perempuan memang TMS, tapi satu Bacaleg laki-laki sudah mengundurkan diri. Jadi tersisa 10 Bacaleg yang memenuhi syarat, perempuannya ada tiga orang. Itu sudah memenuhi 30 persen perempuan.
KPU Bali justru memutuskan tak memenuhi kuota 30 persen perempuan. Ini aneh!” sodok Tirtawan, di Denpasar, Selasa (14/8/2018).

Anggota Komisi I DPRD Bali ini mempertanyakan cara KPU Bali menghitung jumlah 30 persen perempuan dari 10 Bacaleg yang ada.

“Satu TMS, sisa tiga Bacaleg Perempuan dari total 10 Bacaleg. Kuota 30 persen perempuan dari 10 Bacaleg itu ya tiga orang. Itu sudah memenuhi syarat. Saya minta KPU Bali pakai kalkulator atau mesin penghitung yang baik untuk menghitung kuota 30 persen perempuan tersebut,” sindir Tirtawan.

Ia menambahkan, tak ada dalam aturan menggugurkan seluruh Bacaleg dari satu Dapil jika salah satu Bacaleg dinyatakan TMS.

“Saya sudah baca semua aturannya. Tak ada menyebutkan semua Caleg satu Dapil gugur kalau ada satu Caleg dinyatakan TMS,” ujarnya.

Apakah keputusan KPU Bali yang menggugurkan Tirtawan Cs sebagai aksi balas dendam KPU Bali? Ditanya demikian, Tirtawan tak serta merta membenarkannya. Kendati demikian, menurut dia, potensi balas dendam bisa saja terjadi.

Untuk diketahui, Tirtawan memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan salah satu Komisioner KPU Bali Wayan Jondra. Tirtawan pernah melaporkan Jondra ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), dan dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran kode etik.

Tirtawan juga menjadi aktor utama di DPRD Bali yang memangkas anggaran untuk KPU Bali sebesar Rp98 Miliar. (amb)

Komen via Facebook