Jangan Beragama dalam Kecemasan

63

TABANAN-klikpena.com

Bila umat melaksanakan agama tanpa didasari pola pikir (mindset) maka akan terasa ruwet dalam melakukan dharma agama dalam kehidupanya.
“Umat akan sibuk dan suntuk memainkan simbul2 agama,terutama dalam melaksanakan ajaran agama,misalnya dalam membuat sarana upakara(banten) dengan beragam versi. Padahal simbul2 tsb hanyalah kulit luar dari agama itu. Jika diteropong dari perspektif dan demensi spiritual” ujar cendikia,spirituallis Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda pada dharmawacana dan dharmatula Pasraman Pemangku dan Srati Desa Pakraman Dadia,Penebel,Tabanan (11/11)
Beragama menurut cendikia agama Hindu ini adalah bagaimana membuat pola pikir (mindset) berubah tanpa menapikan substansi keberagamaan,guna menghindarkan diri dari kecemasan.
“Jika mindset umat tidak diarahkan,maka akan membuat kecemasan,merasa serba kurang,tidak mampu dan yakin serta tidak sempurna khususnya dalam mekaksanakan upacara dan membuat upakara (banten) sehingga cenderung melakukanya diluar tatwa dan susila agama hindu. Fenomena inilah yang acapkali menjadi lahan subur bagi para pihak dan kelompok tertentu untuk membuat umat wisesa agar mudah untuk menjual sesuatu, memanfaatkan untuk kepentingan pribadi dan golongan.
Tidak berlebihan kelompok tsb juga merasa takut bilamana pola pikir(mindset)umat berubah maju,berani mengambil sikap sehingha beragama itu menjadi mudah”sindir Ida Pandita.

Sejauh ini umat dikatakan,hannya sebagian kecil saja yang berani untuk membangun intelektualitasnya dengan menggunakan rasio tanpa meninggalkan ideologi ritualistik dan habit atau kebiasaan sehingga melahirkaan budi yang akan mampu membuat kehidupan keberagamaan menjadi modern sesuai dengan keadaaan zaman now(milineal).
Agama hrs berubah dengan berlandaskan intelektual di era millineal ini,tidak lagi terkungkung dimensi spiritualistik dan gugon tuwon tanpa mengurangi unsur keyakinan(misalnya upacara yg seharusnya kecil jgn dibesarkan begitu juga sebaliknya).
Pemetaan idelogi spiritual menurut Ida Pandita Mpu Acharyananda penting,akan tetapi beragama dari demensi filosofi juga lbih penting baik,karena akan melahirkan umat yang bijaksana dalam beragama.
“Jadi beragama sesuai dgn iksa,sakti,kala dan desa pasti akan enak tapi janganlah seenaknya”ujar dosen ilmu agam itu mengakhiri.
Bendesa Pakraman Dadia I Wayan Sukarata menjelaskan,pasraman Pemangku dan Srati ini dimaksudkan untuk memperkaya khazanah pengetahuan umat dan sekakigus mohon pentujuk dalam melaksanakan upacara sesuai dengan Tatwa dan Susila Agama Hindu.Dengan demikian umat akan mampu meningkatkan srada bhakti dalam menjalankan dharma agama.

Komen via Facebook