Jika Pemda Belu Tidak Koperatif, Ini Akibatnya

74

ATAMBUA-klikpena
Surat terbuka yang dilayangkan kepada Bupati Belu tertanggal 10 Agustus 2018 lalu yang dikirimkan oleh salah seorang ahli waris korban yang rumahnya terancam ambruk akibat gusuran alat berat pembanguan sebuah Hotel di Lingkungan Lalete Sukabi, Kelurahan Tulamalae, Kec. Atambua Barat, Kota Atambua, Belu, NTT, rupanya disikapi serius oleh Pemda Belu.
Buktinya, beberapa hari setelah surat terbuka tersebut dilayangkan, Pemda Belu melalui Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Belu langsung mendatangi lokasi pembangunan yang diduga diperuntukan untuk hotel tersebut, Jumat (10/8).
Kedatangan tim tersebut untuk melihat dari dekat sekaligus meminta penjelasan dari pengawas proyek serta meminta ditunjukkan gambar konstruksi bangunan yang menjadi lampiran di dalam IMB No.

Salah satu rumah warga yang nyaris ambruk karena tanah tempat mendirikan bangunan terus digusur alat berat pembangunan hotel.

DPMPTSP.644/1/73/VII/2018 tertanggal 31 Juli 2018 yang dijadikan dasar membangun tersebut.

Secara terpisah, Ketua Tim Pengacara ahli waris dari Alm. Dominikus Seran yang telah ditunjuk yakni Doktor Simon Nahak, SH.,MH menekankan bahwa pada prinsipnya informasi yang diminta oleh penyanding sebagaimana termuat di dalam surat terbuka tersebut merupakan informasi publik yang wajib diberikan kepada masyarakat apalagi kepada penyanding.
Hal tersebut ditegaskan dalam Pasal 2 huruf c Peraturan Daerah Kabupaten Belu No. 5 Tahun 2012 Tentang Pendirian Izin Mendirikan Bangunan. Tidak menutup kemungkinan, apabila Pemda tidak bersifat kooperatif perkara ini akan bermuara ke pengadilan dan pejabat yang mengeluarkan izin pun akan terseret di dalam pusaran kasus nantinya, tegas Doktor Simon Nahak, pengacara senior yang pernah menjadi Pengacara dari Gubernur Bali, Made Mangku Pastika tersebut.
Sementara, Yulius Benyamin Seran selaku penyanding menegaskan bahwa pihaknya berharap agar Pemda Belu tidak cuci tangan dalam menyikapi permasalahan ini, jangan sampai Pemda Belu melakukan pembiaran sehingga dugaan pelanggaran tersebut terus terjadi.
“Bayangkan saja terdapat lubang galian alat berat sebesar itu yang hanya berjarak kurang lebih 1 meter dari rumah tinggal penyanding, sementara sebentar lagi akan memasuki musim hujan, untung saja kami berani menyikapi secara terbuka pada 10 Agustus 2018 kemarin, kalau kami tidak bereaksi, apakah Pemda Belu akan mengambil sikap?” tegas, Yulius Benyamin Seran yang akrab di sapa Eland itu.

Eland menambahkan dirinya bersama dengan beberapa rekan Advokat asal NTT yang berada di luar dan juga rekan-rekanya yang berada di NTT sudah mempersiapkan langkah hukum yang akan ditempuh.
Ketika ditanya langkah hukum apa yang akan diambil, Eland menjawabnya dengan singkat, ya kita lihat saja nanti, tergantung etikad baik dari semua pihak terkait, terutama pemilik bangunan.

Terkait pembangunan yang telah memberikan rasa kurang nyaman kepada warga setempat itu, beberapa media, seperti dilansir MarjinNews telah menghubungi ketua DPRD Belu Januaria Awalde Berek. Menurut ketua DPRD Belu itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Sekda Belu terkait pembangunan yang terjadi di Lingkungan Lalete Sukabi, Kelurahan Tulamalae, Kec. Atambua Barat, Kota Atambua. “Kemarin (Kamis (09/8-red) kami telah menayakan kepada Sekda Belu. Kami menanyakan terkait sosialisasi dan teknis-teknis lain yang berkaitan dengan pembangunan tersebut. Sekda bilang dirinya juga akan berkoordinasi juga dengan dinas terkait,” ujarnya.
Ia berjanji bersama pihak eksekutif di Belu akan terus berkoordinasi hingga bisa memberikan rasa nyaman kepada warga yang terkena dampak dari pembangunan tersebut. ED

Komen via Facebook