Rawan Gempa, Konstruksi Bangunan Wajib Diperhatikan

42

Denpasar, Klikpena. com-Selain merenggut puluhan nyawa, gempa yang mengguncang Lombok, Minggu (5/8) malam juga merusak ribuan rumah penduduk, fasilitas publik, serta bangunan fisik lainnya. Berkaca kejadian tersebut, evaluasi terhadap kontruksi bangunan menjadi hal yang penting dilakukan ke depan. Terlebih bagi masyarakat yang tinggal di geografis rawan bencana.

Akademisi Universitas Warmadewa (Unwar), Dr. Ir. Wayan Parwata, MT angkat bicara. Ia mencoba memberi solusi konstruksi bangunan seperti apa mestinya dikembangkan di Indonesia, negeri cincin api dan pertemuan sejumlah lempeng bumi.

“Kalau bicara yang paling ideal, tentu bangunan tradisional Bali itu sudah teruji terhadap gempa. Bangunan Bali itu kan elastis, jadi ketika ada getaran dia akan bergerak mengikutinya, sehingga meminimalisir dampak roboh,” kata dosen arsitektur Unwar, Rabu (8/8) siang.

Wakil Rektor III Unwar ini menerangkan, secara sistem struktur, konstruksi bangunan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni struktur rigid dan struktur elastis. Struktur rigid adalah struktur yang kaku, keras, dan biasanya terbuat dari beton bertulang, sementara struktur elastis adalah kontruksi yang antar bangunan yang antar kolom bisa elastis.Saat ini struktur rigid adalah struktur yang paling umum digunakan masyarakat dan memiliki kerawanan yang lebih tinggi terhadap goncangan.

Pada dasarnya, jika pembangunan konstruksi dilakukan dengan perhitungan yang tepat sejatinya tidak bermasalah. Namun, saat ini sistem kontruksi bangunan yang berkembang di masyarakat masih banyak yang tidak memenuhi syarat, baik dari segi perhitungan maupun kualitas material. Keberadaan bangunan semacam itu pun dinilai tidak dapat dideteksi, cenderung liar, tidak dikontrol dengan baik.

“Di lapangan banyak yang tidak terdeteksi, padahal mestinya bangunan menengah ke bawah, yang memaksakan untuk dilantaiduakan harus terkontrol dengan baik. Bukan hanya bangunan pribadi yang menengah ke bawah saja, bangunan layanan publik juga ada yang demikian,” tambahnya.

Perhitungan bangunan semacam itu seringkali mengesampingkan aspek perhitungan, baik antara pondasi bangunan, berat atap, dan perhitungan kolom antar kolom. Secara teori, semakin pendek jarak antar kolom maka akan semakin kuat. Hal ini juga berlaku terhadap material bangunan yang digunakan. Semakin berkualitas material yang digunakan, maka bangunan yang dihasilkan akan semakin baik.  

“Saat ini banyak material yang digunakan membangun kurang pas, misalnya penggunaan besi antar kolom yang tidak memenuhi syarat. Fondasi yang seharusnyafoot plat tapi menggunaakan pondasi menerus, karena tidak memperhitungkan struktur tanah atau mungkin tidak ada biaya, juga perhitungan perekat antar plat dan kolom, kesesuaian besar balok dengan jarak kolom, serta perhitungan dan pemilihan atap,” bebernya. (abi)

Komen via Facebook