Terancam Pidana Mati Sindikat Narkotika Antar Pulau

27

DENPASAR, KLIKPENA – Tiga orang dari jaringan peredaran narkotika antar pulau terancam pidana mati dalam sidang yang digelar, Rabu (4/7) di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Nyoman Martini dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali,  dalam persidangan dengan majelis hakim yang diketuai, I Gde Ginarsa,  menjerat ketiga terdakwa, Eko Noor Januriti Yanto alias Empol, 31 tahun, Andita Permana alias Bondet , 25 tahun dan Nurul Yasin alias Ucil, 29 tahun, (berkas penuntutan terpisah),  dengan pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) dan  pasal 112 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1)

Undang – undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.  Ancaman pidana dari pasal 114 ayat (2) adalah pidana mati sedangkan pasal 112 ayat (2) adalah pidana 20 tahun penjara dan denda Rp8 miliar.

Ketiga terdakwa ini didakwa melakukan permufakatan jahat dalam tindak pidana narkotika, yakni menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar atau menyerahkan narkotika.

Diuraikan jaksa dalam dakwaannya, terungkapnya permufakatan jahat ketiga terdakwa berawal dari tertangkapnya Empol dan Bondet di pintu masuk kedatangan Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana pada tanggal 20 Maret 2018.

Ketika itu ada pemeriksaan dari petugas Direktorat Narkoba Polda Bali terhadap kendaraan yang masuk ke Bali.  Saat petugas memeriksa bus yang ditumpangi Empol dan Bondet, petugas menemukan 2 paket narkotika jenis sabu yang disimpan di  tas milik Empol yang ditaruh dibawa kursi. Empol dan Bodet kemudian diamankan bersama barang bukti narkotika sabu tersebut. Sebelum digiring ke Polda Bali, petugas mendatangi tempat kos Empol di Jalan Nuansa Indah Utara I Nomor 18 Banjar Tengah, Desa Ubung Kaja, Denpasar.  untuk mencari barang bukti lainnya. Dari pemeriksaan yang dilakukan petugas terhadap keduanya, munculah nama Nurul Yasin alias Ucil. Petugas kemudian berhasil menagkap Ucil di Jalan By Pass Ngurah Rai nomor 615, Desa Suwung Kauh, Denpasar.

Persekongkolan membawa masuk sabu seberat

2.030 gram brutto ke Bali tersebut bermula ketika

Ucil menghubungi Empol dan Bondet dan meminta keduanya untuk ke Jakarta. Ketika itu Ucil menanyakan kesanggupan keduanya berangkat ke Jakarta untuk mengambil sabu dan disanggupi oleh Empol dan Bondet.

Terdakwa Ucil kemudian meminta nomor rekening untuk ditransfer uang, ongkos perjalanan.

Pada tanggal 19 Maret 2018, sekitar pukul 06.00 wita,  terdakwa Empol dan Bondet berangkat ke Jakarta dengan menggunakan pesawat Lion Air. Setibanya di Jakarta, terdakwa Ucil menghubungi Empol dan menyuruhnya bersama Bondet langsung menuju Puri Kemangan, Jakarta Barat, dengan menggunakan taksi online untuk bertemu dengan seseorang didepan Mc D, Puri Kemangan.

Setelah bertemu, orang yang tidak dikenal itu memberikan sebuah tas hijau bertuliskan ‘Happy Birtday’ yang didalamnya berisi sabu yang dibungkus dengan 2 kresek hitam.

Setelah menerima tas tersebut, Empol dan Bondet langsung menuju terminal Pulo Gebang dan menumpang bus pulang ke Bali.

Ketika baru tiba di pintu masuk Pelabuhan Gilimanuk, permufakatan jahat inipun berakhir setelah petugas Ditnarkoba Polda Bali menciduk Empol dan Bondet dan kemudian dari pengembangan, Ucil berhasil dibekuk  dan digiring ke balik jeruji besi.  (Dickenmina)