Sidang Pembunuhan Polisi Terdakwa Diamuk Keluarga Korban

47
Keempat terdakwa dikawal ketat polisi dari sel tahanan menuju ruang sidang (klikpena/Dickenmina)

KLIKPENA, DENPASAR – Keluarga Purn.Pol. Aiptu. Made Suanda, korban pembunuhan  mengamuk dan berusaha menghadang empat terdakwa pelaku pembunuhan,  I Gde Ngurah Astika, Dewa Putu Alit Sudiasa alias Alit, Putu Veri Permadi alias Veri dan Dewa Made Budianto alias Tonges saat akan diamankan keluar dari ruang sidang dan dibawa kembali ke Lapas Kerobokan, Denpasar.  Dengan berteriak, “Nyawa harus dibayar nyawa” keluarga korban berusaha untuk memukul dan mengeroyok para terdakwa. Beruntung petugas dari kepolisian dan kejaksaan sigap sehingga keempat terdakwa berhasil diselamatkan dan diamankan di dalam ruang sidang.

Dalam sidang, Selasa (3/7) majelis hakim yang diketuai, I Gde Ginarsa menjatuhkan vonis 17 tahun penjara kepada pelaku utama, I Gde Ngurah Astika. Sedangkan tiga terdakwa lainnya yang membantu menghabisi korban purnawirawan polisi ini divonis 14 tahun penjara. “Menyatakan terdakwa, I Gede Ngurah Astika  terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara  selama 17 tahun dipotong selama terdakwa berada dalam masa penahanan sementara,” tegas ketua majelis hakim,  I Gde Ginarsa.  Perbuatan para terdakwa  ini melanggar Pasal 340 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP sebagaimana dakwaan Primair dari Jaksa Penuntut Umum (JPU),  I Kadek Wahyudi Ardika.

Sementara  dalam sidang sebelumnya, jaksa Kadek Wahyudi  membuktikan keempat terdakwa  melakukan tindak pidana pencurian  dan kekerasan yang dilakukan secara bersama-sama yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Jaksa Kadek Wahyudi menuntut terdakwa I Gde Ngurah Astika dengan pidana penjara 15 tahun dan tiga terdakwa lainnya dengan pidana penjara 12 tahun. Pembunuhan berawal ketika korban mengiklankan mobil Honda Jazz miliknya yang akan dijual.  Terdakwa Gede Ngurah Astika kemudian menghubungi korban dan berpura – pura berminat membeli mobil korban tersebut.

Keluarga korban mengamuk dan menghadang keempat terdakwa yang dikawal ketat petugas kepolisian dan kejaksaan di pintu keluar ruang sidang (klikpena/Dickenmina)

Setelah proses tawar menawar harga melalui pembicaraan lewat handphone, terdakwa Gede Ngurah Astika dan  korban Made Suanda sepakat untuk melakukan transaksi  di kontrakkan  terdakwa Gde Ngurah Astika, pada Jumat, 15 Desember 2017, sekitar pukul 12.00 di rumah Perum Nuansa Utama Nomor 30, Ubung Kaja, Denpasar.  Ketika datang ke rumah kontrakkan ini, korban kemudian dihabisi.  Dalam menjalankan untuk merampas mobil korban, terdakwa I Gede Ngurah Astika mengajak Dewa Putu Alit Sudiasa, Putu Veri Permadi, Dewa Made Budianto.

Sebelumnya, untuk memuluskan rencana jahat mereka, para terdakwa membeli obat tidur yang akan dicampurkan ke minuman korban saat datang ke rumah kontrakan pelaku utama.

Korban yang datang ke rumah korban kemudian disuguhin kopi yang sudah dicampur obat tidur. Para pelaku berharap, setelah minum kopi tersebut korban akan tertidur dan mereka akan membawa kabur mobil korban dan menjualnya. Ternyata, kopi yang sudah dicampur obat tidur  tidak memberi efek bagi korban seperti yang diharapkan. Terdakwa Ngurah Astka kemudian memukul kepala korban sampai korban terjatuh kemudian dibantu tiga terdakwa lainnya memukul sampai korban meregang nyawa.

Setelah itu, terdakwa Ngurah Astika mengambil BPKB mobil dan membawa Mobil Honda milik korban diikuti dari belakang oleh terdakwa . Para terdakwa kemudian menjual mobil itu seharga Rp.148.000.000.

Hasil penjualan mobil itu kemudian  oleh terdakwa Astika dibagikan kepada tiga terdakwa lainnya masing-masing  Rp10 juta, sedangkan sisanya dipakai terdakwa untuk dirinya.  (Dickmina)

Komen via Facebook