Kemendikbud Gelar Simposium ISODEL di The Stone, Kuta

33

MANGUPURA-klikpena.com

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi menggelar International Symposium on Open, Distance and E-Learning (ISODEL) Tahun 2018 di hotel The Stone, Kuta, Badung pada Senin (3/12) pagi. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut fokus membahas terkait kesiapan guru dalam menyongsong era pendidikan berbasis digital.

Kegiatan yang dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Muhadjir Effendy ini diikuti oleh 14 Negara dan berlangsung selama 3 hari berturut-turut mulai tanggal 3 sampai 5 Desember 2018. Kegiatan tersebut mengusung tema ‘Making Education 4.0 For Indonesia’ karena mengabungkan tiga format acara menjadi satu kesatuan. Sehingga menjadi ajang para pakar dan praktisi TIK pendidikan dan kebudayaan berbagi ilmu, ide dan gagasan, agar peserta dapat mendalami lebih detail tentang keahlian dan kompetensi TIK yang diperlukan dalam menyambut era revolusi industri 4.0. Selain para guru TK, SD, SMP, SMA, para dosen, praktisi dan sebagainya. “ISODEL 2018 diarahkan untuk berbagai kalangan terutama guru dan akademisi, para guru diharapkan terlibat aktif dalam mengikuti rangkaian acara yang sudah dirancang untuk dapat bermanfaat dalam keseharian pembelajaran di kelas. Indonesia tentunya akan mendapatkan rekomendasi dan best practice yang dapat dijadikan acuan dalam mengembangkan kebijakan dan layanan dalam menyambut era revolusi industry 4.0,” jelas Mentri Kemendikbud, Muhadjir Effendy usai membuka kegiatan itu.

Diakui Effendy, simposium ISODEL diharapkan menjadi referensi dari semua praktek-praktek baik dari pihak swasta, negara lain, untuk memperkokoh bagaimana membangun pendidikan Indonesia ke depan. Sehingga, ISODEL tahun 2018 bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi pembuat kebijakan, ilmuwan, akademisi, guru, peneliti dan praktisi dari seluruh dunia untuk bertukar pengetahuan, ide, dan pengalaman mereka untuk mendukung transformasi pendidikan di Indonesia menuju Pendidikan 4.0. “Pertanyaannya, kenapa harus mengusung soal education 4.0. Karena untuk menjawab peluncuran ‘Making Education 4.0’ yang sudah diluncurkan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu. Industri ekonomi Indonesia harus sejalan dengan revolusi industri yang ada, dengan pendidikan yang ada. Dimana pendidikan anak-anak Indonesia belum semuanya 4.0,” lanjut Effendy.

Mendikbud Muhajir Effendi menggunting pita tanda dimulainya pameran pendidikan berbasis teknologi di hall hotel the Stone Kuta

Sementara Staff Ahli Kemendikbud bidang Inovasi dan Daya Saing, Ananto Kusuma Seta mengurai bahwa pendidikan anak-anak Indonesia belum semuanya menuju 4.0. Untuk itu perlu mendorong anak-anak Indonesia menjadi bagian dari solusi masa depan. Dengan adanya robotisasi, komputerisasi, otomatisasi dan seterusnya. Pendidikan ke depan tidak bisa lagi seperti anak yang bekerja dengan robot dan apalagi bekerja seperti robot, melainkan anak yang mampu membuat robot. Hal yang sama juga terjadi dengan para guru di Indonesia. Sebagian besar di Indonesia belum mampu menuju pendidikan 4.0. Banyak guru yang masih manual, bermain gadjet juga belum bisa. “Guru yang dididik 15 sampai 20 tahun lalu itu bukan digital native tetapi digital migran. Ada sebagian guru misalnya, pakai gadget saja masih belum bisa,” ujar Ananto

Ia juga mengakui bahwa persoalan lain yang dihadapi adalah konektifitas. Indonesia adalah negara kepulauan dengan konektifitas yang masih sangat rendah. Saat ini pemerintah sedang mengupayakan konektifitas agar proses digitaslisasi bisa terjangkau di seluruh Indonesia. Sehingga, pemerintah saat ini sedang fokus di 33 titik daerah terluar Indonesia agar bisa terkoneksi dengan baik, agar terkonekasi dengan internet. “Bukan hanya sekolahnya terkoneksi tetapi guru-gurunya juga dibedah dalam hal teknologi. Literasi digital bagi para guru untuk meningkatkan kualitas dirinya dengan terus belajar teknologi digital,”

Kusuma Seta juga mengarisbawahi, pendidikan 4.0 bukan berarti gadget, bukan komputerisasi, laptopisasi. Pendidikan. 4.0 harus balance antara teknologi go skill dengan human skill. Perubahan itu harus membuat siswa dan guru seimbang antara menggunakan gadget dengan moral, karakter sebagai manusia, bukan robot atau komputer. “Pendidikan moral bagi pengguna teknologi jauh lebih penting daripada sekedar seorang siswa mampu mengoperasikan gadget atau komputer,” tegasnya.BIL

Komen via Facebook